Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Selasa, 13 November 2012

SPIONASE konvensional vs 3.0 #2


sumber gambar : google

Setelah di tulisan sebelumnya sharing sedikit mengenai “spionase” metode konvensional kini saatnya kita membahas mengenai “spionase” metode Web 3.0. Nah sebelumnya perlu kita bahas sedikit bahwa metode ini memiliki advantage low cost dibandingkan dengan metode konvensional yang notabene membutuhkan cost dan effort yang cukup besar.

“kemajuan teknologi informasi khususnya media konvergensi (internet) nampaknya kini menyebabkan perputaran informasi menjadi sangat cepat, bebas, dan tidak terbatas. Kini hanya dengan menuliskan satu kata atau beberapa kalimat saja kita bisa mengetahui banyak hal mengenai apa yang kita cari. Terlebih kini dengan web 3.0 yang lebih berorientasi pada konten sharing semakin mempermudah pencarian informasi yang belum tentu kita dapatkan jika menggunakan metoda konvensional.” #Web 3.0


1.       Google Keyword
Situs paling populer di dunia yang selalu menjadi tampilan yang pertamakali muncul saat kita membuka browser, situs yang setiap bulannya dikunjungi kirang lebih 91 Juta orang ini bisa membantu kita dalam mencari data, fakta, atau informasi apapun. Sederhananya anda mengetik keyword-keyword yang berhubungan dengan kompetitor maka google tidak akan sungkan segera memunculkan data – data yang berhubungan dengan keyword tertentu (example : event, strategi, marketing, public relation, promosi, campaign, konsumen, achivement) atau untuk konteks image (flyer, poster, packaging, billboard, catalog, design), nah dengan “mengawinkan” salah satu keyword tersebut dengan nama merk atau produk kompetitior kita kemungkinan besar akan muncul beberapa bahkan banyak data yang bisa kita jadikan referensi data untuk dijadikan kekuatan untuk mengukur sejauh mana kekuatan dan pergerakan kompetitor dimana selanjutnya kita menentukan langkah apa yang perlu diambil.

2.       Website
Hal basic yang bisa kita lakukan dalam menggali data dari kompetitor atau pesaing bisnis kita adalah melalui corporate website yang mereka miliki, nah dari sini kita bisa mempelajari kompetitor dari kontent website yang mereka miliki (example : produk, news & event, achivement,  A&Q).

3.       Facebook & Twitter
Jejaring social yang sangat booming di Indonesia di awal kemunculannya ini kini sudah mencapai angka 40 juta active user, begitupun dengan Twitter yang kini mendekati angka 20 Juta user. Era Web 3.0 yang berfokus pada konten sharring ini memaksa brand – brand skala lokal maupun nasional untuk menggunakan Facebook atau Twitter sebagai channel penjualan maupun media membangun online community mereka. Seperti dua sisi mata uang Facebook dan Twitter juga secara tidak langsung bisa menjadi ancaman bagi brand – brand besar, nah khususnya dalam konteks “spionase” tentu social media menjadi sasaran empuk bagi para kompetitor untuk menggali database dari para pesaing mereka, melalui jaringan social media ini kita bisa memantau aktivasi program baik online maupun offline yang dilakukan oleh kompetitor, apa saja interaksi yang mereka lakukan dengan konsumen mereka, bahkan hal yang paling ekstreme adalah kita bisa mengetahui konsumen yang tergabung dalam komunitas online mereka untuk di konversi menjadi konsumen kita, well nothing is immposible di era kebebasan informasi ini.

4.       Online Survey
Nah hampir sama dengan survey metode konvensional yang dalam hal ini kita melibatkan konsumen kita atau kompetitor untuk berpartisipasi menjadu narasumber riset yang kita lakukan, bedanya dengan riset konvensional adalah dari segi efisiensi cost dan waktu riset. Online survey saya kira bisa dilakukan dengan waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan metode konvensional yang membutuhkan effort cukup besar, selain itu dari segi alokasi cost online survey bisa menekan cost riset konvensional yang membutuhkan cost tidak sedikit, kenapa? melalui online survey kita bisa melibatkan responden dalam skala yang besar namun dengan effort yang cukup mudah (example kita menggunakan social media sebagai media dalam mempublish online riset kita), bayangkan berapa banyak cost oprasional yang kita butuhkan untuk riset konvensional dalam skala yang besar (cost sdm & oprasional). kuncinya adalah umpan yang bisa menarik perhatian responden untuk mau berpartisipasi dalam riset ini, nah biasanya solusi yang bisa digunakan adalah iming-iming hadiah.

Nah itu tadi beberapa referensi channel yang bisa digunakan sebagai media “spionase” collect data & fakta mengenai kompetitor secara online, kembali pada konteks “spionase” secara umum pada dasarnya metode konvensional maupun online keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, selanjutnya kembali kepada kebijakan dan kebutuhan dari masing-masing perusahaan. Dalam realitanya metode konvensional maupun online merupakan media yang tidak luput dari pantauan para marketers sejati dalam mengawasi pergerakan pesaing bisnisnya. (dira illanoor - 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar