Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Selasa, 03 Juni 2014

IRT dan Bisnis Onlinenya


sumber gambar : http://www.ilovesbd.com/wp-content/uploads/2014/04/making-money-from-home-online.jpg


Adanya digitalisasi media digital seperti internet dan social media sebagai platform bisnis nampaknya memang sudah menjadi magnet bagi para pelaku bisnis, baik pelaku bisnis konvensional yang mentranformasi bisnisnya menjadi online hingga startup business yang pintar dalam melihat peluang tersebut untuk mengembangkan bisnis melalui media online, dan tidak sedikit diantaranya banyak yang berhasil menjalankan bisnis online hingga bisa meraup omzet jutaan rupiah setiap bulannya. Nah menariknya adalah salah satu pelaku bisnis online ini banyak juga yang dari kalangan IRT (ibu rumah tangga), salah satunya adalah istri saya yang sudah beberapa bulan belakangan ini turut nyemplung menjadi pelaku bisnis online menjual pakaian dan tas wanita hingga baju bayi, dan keuntungan yang dihasilkan setiap bulannya walaupun belum mencapai angka jutaan namun bisa dibilang lumayan loh.

Balik ke pembahasan mengenai fenomena dari banyaknya pelaku bisnis online yang salah satunya dari kalangan IRT, digitalisasi media digital yang dijadikan platform untuk berbisnis online tentunya menjadi stimuli utama dari kemunculan fenomena ini, pertanyaannya adalah kenapa kalangan IRT tertarik nyemplung ke bisnis online yah? Berdasarkan pengamatan pribadi dari beberapa teman dan kerabat beberapa dari mereka pada awalnya memulai bisnis online lebih pada “mencari kesibukan dibandingkan mencari keuntungan (penghasilan)” karena biasanya kalangan ini lebih didominasi oleh para ibu yang memilih dirumah mengurus rumah dan anak dibandingkan bekerja. Nah menariknya di dalam prosesnya banyak dari mereka yang pada akhirnya menjadikan bisnis online ini sebagai “pekerjaan sambilan yang menguntungkan” dibalik profesi mereka sebagai IRT, ya mungkin karena keberhasilan mereka dalam membangun bisnis, networking, dan yang terpenting penghasilan besar sehingga kalo nggak dijalankan secara serius nampaknya akan jadi “mubazir”.

Faktor simple pada dasarnya menjadi alasan utama bagi mereka untuk nyemplung ke bisnis online, kenapa tidak? para ibu-ibu khususnya urban family yang sudah dilengkapi dengan gadget canggih dan akses internet ini, dan kalo emang niat bisnis online pribahasanya tinggal beli barang di pasar baru di foto terus di share deh lewat digital media, selanjutnya tinggal nunggu orderan, transaksi, kirim barang pake jasa paket, nah cepat dan mudah dilakukan bukan? Aspek yang menjadi advantage bagi mereka sebagai pelaku bisnis online adalah relasi yang sudah dibangun sejak dulu baik melalui media online atau konvensional yang bisa dikonversi menjadi channel penjualan yang sangat efektif dan efisien, dan biasanya pada awal menjalankan bisnis online revenue stream paling besar dihasilkan melalui first circle (keluarga) and second circle (teman), baru berkembang ke third circle (temannya teman). Anda termasuk sebagai para ibu yang tertarik berbisnis online? Mungkin tulisan ini layak untuk dibaca, monggo semoga menginspirasi.
               
1.       Digitalization Make It Possible
Sebelumnya hal pertama yang akan dibahas adalah mengenai digitalisasi media digital sebagai platform bisnis yang sedikit banyaknya sudah mendorong perkembangan pelaku bisnis rumahan berbasis media digital (online business), khususnya di kalangan perempuan tidak terkecuali ibu rumah tangga didalamnya. Kenapa? Selain tentunya fact in number mengenai internet dan social media user di Indonesia yang sangat menggiurkan, saya nilai digitalisasi digital media ini memberikan kemudahan ruang bagi siapapun untuk menjalankan bisnis online. Nah saya pribadi menilainya dari 3 aspek yakni cost, flexibility, dan process, dimana cost mewakili digital media memberikan peluang pasar yang sangat besar dibalik biaya yang sangat murah yang bahkan memungkinkan bagi kita membangun jaringan reseller secara online, hal ini tentunya berbeda dengan media konvensional yang masih membutuhkan biaya sangat tinggi. Flexibility mewakili kemudahan dalam hal waktu dan pengerjaan, contoh paling sederhana adalah istri saya yang masih bisa melakukan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga di sela-sela kesibukannya ngurusin bisnis onlinennya. Process disini mewakili kemudahan dalam berjualan maupun bertransaksi, seperti barang yang mau dijual tinggal di foto lalu di upload atau di blast, proses pembayaran melalui transfer bank atau bahkan C.O.D, hingga proses pengiriman barang melalui jasa pengiriman paket, nah simple kan.

2.       Learn A to Z
Point kedua yang menjadi perhatian bagi para ibu yang mau berbisnis online adalah Learn your business from A to Z, dimana dalam hal ini adalah proses dimana kita mempelajari, memahami, dan dan menguasai bisnis kita dari hulu hingga ke hilir mau itu cuma jualin produk jadi (reseller) atau jual produk sendiri. Hal yang paling dasar perlu kita ketahui pada saat berbisnis adalah produk seperti apa yang mau dijual, siapa konsumen kita, siapa pesaing kita, bagaimana cara mendistribusikan atau jual produk kita lewat media digital. Sederhananya jika kita ingin menjalankan sebuah bisnis kita harus mengetahui point A – Z dari bisnis kita mulai dari tataran konsep, hingga ke tahap eksekusi (produksi, distribusi, penjualan). Seperti apa yang istri saya lakukan yang “blusukan” mencari vendor bahan baku hingga vendor produksi, yang dimana mau tidak mau proses ini memang harus dilalui karena hal ini merupakan bagian dari proses bisnis itu sendiri.

3.       Consistence First Not Profit
Point ketiga yang dibahas selanjutnya adalah mengenai konsistensi dalam menjalankan bisnis yang dikembangkan. Seperti diketahui digitalisasi media digital sebagai platform bisnis menawarkan peluang yang sangat menggiurkan, sehingga banyak yang memberanikan diri nyemplung kedalam pusaran bisnis online tergiur akan keuntungan yang besar. Nah dari apa yang saya pelajari keuntungan memang menjadi tujuan kita pada akhirnya, namun jangan jadikan keuntungan sebagai fokus utama di awal keberangkatan kita membangun fondasi bisnis online, karena akan lebih baik di awal proses membangun bisnis online kita lebih fokus pada konsistensi dalam menjalankannya.

4.       Learn From Every Mistaken
Sebuah quotes mengenai “good business person always learn from the mistaken made on past” mungkin ada benarnya juga yah, dalam menjalankan sebuah bisnis tentunya nggak selalu lancar dalam artian pasti ada saja hambatan yang perlu kita hadapi. Point ini tentunya mengajarkan kita untuk menjadikan sebuah kesalahan yang kita lakukan atau kita hadapi sebagai media bagi kita untuk melakukan evaluasi untuk memperbaiki sehingga hal tersebut tidak terulang untuk kedepannya, seperti apa yang sudah dilalui oleh istri saya yang dalam prosesnya menemukan ketidaksesuaian dalam pemilihan vendor, mulai dari hasil yang kurang sesuai hingga proses produksi yang molor dari waktu yang sudah ditentukan, namun itulah proses yang dapat menjadikan kita lebih baik dalam berbisnis khususnya dalam mencari satu vendor.

5.       Process Will Show The Way It Self

Nah point terakhir adalah kunci dari bisnis itu sendiri adalah “process will show the way it self” dimana konsistensi yang kita jalankan dalam proses membangun bisnis online dengan sendirinya akan menemukan jalannya, konsistensi tadi tentunya akan membukan jalan bagi kita dalam mengembangkan bisnis kita, karena dalam proses tersebut kita akan menemukan hal-hal yang kadang tidak terduga, dan kadang proses tersebut akan membuka “sesuatu hal” yang belum tentu akan kita ketahui atau belum kepikiran sama sekali di awal kita membangun bisnis . (dira.illanoor – juni 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar