Prolog Dari Penulis

Sebenarnya saya termasuk orang yang jarang nulis, namun diawali dari tugas kantor untuk nulis artikel setiap minggu, melalui blog ini saya hanya ingin sharing sedikit mengenai tulisan-tulisan saya melalui blog ini supaya lebih bermanfaat. Tentunya semoga tulisan ini bisa menjadi insight dan dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca. Mohon maap jika ada dinilai masih ada tulisan yang kurang berkenan, namanya juga masih belajar.

Selasa, 19 Juni 2012

Sharring First Not Selling First


*sumber gambar : google

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan hadir disebuah acara yang diselenggarakan oleh @akberbdg yang kebetulan mengundangan Handoko salah satu pakar advertising & branding sebagai pembicara. Beliau yang memulai profesinya di industri advertising sempat berbicara bahwa pada saat ini konsumen sudah mulai pintar karena bisa membaca dengan baik mengenai keberadaan sebuah brand, kini konsumen tidak bisa terus menerus disuapi oleh produk-produk advertising (one way communication) karena pola komunikasi tersebut sudah berubah menjadi interaksi (two way communication) dimana konsumen (community) menjadi bagian penting yang harus diperhatikan (community enggagement).

Faktor terpenting yang harus diperhatikan saat ini adalah bagaimana mengcreate sebuah konten materi advertising (promosi) dan menyampaikannya dalam bentuk bentuk berita (story teller), selanjutnya kita implementasikan kedalam sebuah program yang melibatkan konsumen (community) menjadi bagian dari program tersebut”.

Keberadaan sebuah brand saat ini seharusnya tidak hanya terpaku pada mencreate dan mendeliver sebuah pesan (message) yang sifatnya satu arah, kita harus merubah stigma tersebut menjadi interaksi (sharring) dikarenakan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya pola komunikasi dari konsumen sudah berubah “we are what we share”. Selain itu esensi utama dari membangun sebuah brand saat ini adalah bagaimana kita bisa merangkul komunitas kita (community enggagement), dimana salah satu upaya penerapa konsep tersebut adalah melalui kolaborasi (co-creation) yang merupakan sebuah pilar penting bagi eksistensi sebuah brand saat ini.

konsep Sharing First No Selling First yang saya pahami disini adalah, bagaimana sebuah brand bisa berkontribusi berkolaborasi (co-creation) dengan konsumennya dengan menjadikan mereka bagian dari program yang kita develop (community engagement). Karena dengan kita melakukan kolaborasi tersebut maka dengan sendirinya akan memiliki impact terhadap penjualan (sales)”.

                Masih ingat tulisan saya sebelumnya mengenai rahasia dibalik kesuksesan Peters Says Denim yang berhasil menjadikan nama PSD sebagai sebuah brand yang tidak hanya besar dalam skala lokal saja namun juga bagaimana PSD sukses menembus pasar international. Sebuah brand indie yang berhasil mengimplementasikan makna sebenarnya dari community engagement, bagaimana PSD berhasil melakukan kolaborasi (co-creation) dengan merangkul komunitas-komunitas yang notabene merupakan target market mereka, dan hasilnya komunitas tersebut berhasil bagian dari kesuksesan PSD dalam membangun sebuah brand dengan menjadi channel promosi dan distribusi.

                Ngomongin kelebihan dan kekurangan saya memiliki pendapat bahwa konsep Sharing First No Selling First akan membutuhkan waktu khususnya jika kita langsung berbicara pada impactnya terhadap penjualan (sales), hal ini mungkin akan berbeda dengan program ataupun aktifitas yang memang secara langsung di set untuk boost performa penjualan (sales). Menariknya disatu sisi konsep Sharing First No Selling First ini walaupun membutuhkan waktu untuk berkembang namun akan lebih bernilai bagi konsumen (community) dan menjadikannya bertahan lebih lama karena sudah terjalin ikatan antara brand dengan konsumen (community enggagement). Lalu bagaimana dengan program yang memang di set langsung untuk performa penjualan? saya kira walau terkadang di satu sisi impact penjualan langsung terlihat namun bagiam penting lainnya dari community enggagement terlupakan.
pilihannya adalah apakah ingin sebuah brand yang menghasilkan penjualan (sales) singkat, atau bukan hanya penjualan saja yang kita bicarakan disini namun juga mengenai pentingnya kolaborasi (co-creation) dalam upaya membangun community enggagement sebagai investasi jangka panjang (influence & advocacy). Sharing First Or Selling First - Which One You Are?
Nah ngomongin mengenai kolaborasi (co-creation)? berikut ini 5 point penting yang coba saya kutip dari pembicara :

1.       Skenario Komunikasi
Pembicara sempat mengundang Max seseorang dibalik kesuksesan Krooz sebuah brand indie di industri fashion, singkatnya salah satu upaya sukses membangun merk Krooz adalah melalui upaya kolaborasi (co-creation) dengan menyelenggarakan sebuah brand activation “Fashion Invation Tour 2011” yang juga kolaborasi dengan Macbeth. Krooz mengajak beberapa band-band indie lokal yang sudah memiliki root fans based cukup besar di beberapa Kota besar termasuk melakukan Endorsement kepada mereka. Max yang sempat share mengenai kerugian yang dideritanya dalam penyelenggaraan activation tersebut kini bisa merasakan hasil dari upaya kolaborasinya tersebut, karena  band-band indie dan fans yang merupakan target market menjadi bagian dari comunity dimana mereka secara tidak langsung menjadi bagian dari upaya promosi. Hampir sama dengan kisah PSD yang sempat saya bahas mengenai Endoresment kini komunitas yang dibangun menjadi bagian dari promosi dan channel distribusi. Upaya aktifasi “Fashion Invation Tour 2011” ini mungkin diumpamakan sebagai sebuah skenario komunikasi dalam membangun merk Krooz dengan secara langsung melibatkan komunitas yang merupakan target market.

2.       Measurement
Kita harus bisa mengukur sesuatu hal yang kita kerjakan supaya kita bisa mengetahui sejuah mana upaya yang kita lakukan tersebut berhasil atau tidak, nah mungkin di sini yang ingin coba saya kutip adalah dalam menerapkan konsep Sharing First No Selling First kita harus bisa menetapkan ukuran (measurement) sejauh mana upaya kita dalam berkolaborasi (co-creation) dengan konsumen (community) dan sebesar apa impact mereka dalam membangun brand kita.

3.       Enggagement
Setelah terbangun enggagement dengan konsumen (community) maka secara tidak langsung akan terbangun ikatan dimana konsumen menjadi bagian dari brand kita, secara tidak langsung mereka menjadi brand ambasador kita. Balik ngomongin kisah sukses PSD mengenai upaya endorsement beberapa band indie dan melibatkan konsumen (community) dalam aktifitas brand PSD, kini komunitas tersebut mampu berkembang menjadi mesin uang dengan menjadi dsitribution channel penjualan produk-produk PSD dan hebatnya hal ini berkembang hingga mancanegara salah satunya Singapura dan Amerika Utara.

4.       Influence
Kekuatan sebuah community enggagement bisa menjadi sebuah pondasi upaya membangun sebuah brand, kenapa karena seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya ketika sudah terbangun community enggagement maka konsumen (community) akan menjadi bagian dari brand kita dimana mereka secara tidak langsung menjadi brand influencer.

5.       Advocacy
Tahapan selanjutnya setelah influence adalah advocay dimana konsumen (community) tidak hanya menjadi brand influencer saja namun juga menjadi bagian dari berkembangnya sebuah brand dengan berkontribusi positif dalam memberikan ide, masukan, anjuran, atau apapun untuk perkembangan sebuah brand. (dira.illanoor - juni 2012)

Rabu, 06 Juni 2012

9 Solusi Menjual Stok Barang Lama


*sumber gambar : google
        
        Bagi para pelaku bisnis khususnya di industri retailer selain sudah dipusingkan strategi persaingan dengan kompetitor dan bagaimana merangkul konsumen mereka supaya mau membeli lebih sering, lebih banyak, sampai akhirnya mau merekomendasikan produk kita kepada relasi mereka, seringkali para pelaku bisnis retail ini harus dihadapkan masalah bagaimana menjual stock barang sisa yang sudah lama karena biasanya saya kira untuk beberapa perusahaan retail mereka sudah stock beberapa item produk dalam kuota tertentu sebagai persediaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

        Keadaan pasar yang senantiasa dinamis bergerak naik dan turun terkadang menyebabkan  stok barang yang sudah mereka siapkan menjadi barang sisa yang sulit untuk dijual, dikarenakan percepatan kebutuhan konsumen akan sebuah produk akan terus berubah. Kondisi seperti ini seringkali menjadi faktor kerugian bagi beberapa pelaku bisnis retail khususnya para startup yang baru saja memulai bisnis.

Dalam upaya menekan cost kerugian dari kondisi tersebut salah satu solusinya adalah mengurangi jumlah stock barang menjadi sistem P.O (pre order) dimana produk yang dipesan oleh konsumen akan diproduksi jika sudah memenuhi kuota tertentu, namun juga terkadang kita bisa menemukan upaya para pelaku bisnis ini yang tetap berusaha menjual stock barang sisa dengan harapan masih bisa meraup sedikit keuntungan. Nah ngobrolin mengenai upaya menjual barang stock sisa atau barang lama mungkin beberapa tips ini bisa digunakan.

1.       Garage Sales
Cara ini seringkali dilakukan oleh beberapa bisnis retail walaupun menggunakan istilah yang berbeda-beda pada dasarnya konsep program ini adalah event Garage Sales, dimana dalam kegiatan yang biasanya diselenggarakan di halaman depan toko dijual beberapa produk (item barang) yang biasanya stock barang sisa atau barang lama dengan penawaran harga yang sangat special (penawaran yang mungkin tidak akan konsumen dapatkan seperti biasanya disaat melaakukan pembelian secara reguler).

2.       Discount Up To 50% For Selected Item
Nah ini juga salah satu cara yang lumrah digunakan oleh beberapa industri retail penawaran dengan iming-iming diskon yang bisa menjadi daya tarik persuasif bagi konsumen. Beberapa barang stock lama bisa kita jual dengan diskon khusus misalkan up to 50%, besar kecilnya diskon tentu saja harus disesuaikan dengan kategori dan jenis produk tersebut. Supaya lebih menarik dan meyakinkan konsumen biasanya beberapa pelaku bisnis retail mencantumkan harga sebelumnya yang sudah di markup disandingkan dengan harga diskon yang sangat berbeda seolah-olah harganya sangat murah.

3.       Packaging
Jika ada budget khusus packaging bisa menjadi salah satu upaya untuk menambah nilai value dari produk stock lama bagaimana kita kemas kembali produk tersebut supaya lebih segar dan menarik bagi konsumen, sehingga barang stock lama menjadi barang baru yang siap untuk dijual kepada konsumen.

4.       Copywriting
Copywriting juga menjadi faktor penting dalam penjualan tidak hanya untuk barang stock lama saja namun juga berlaku untuk barang baru khususnya khususnya dalam menyampaikan serangkaian kalimat yang biasanya disertai gambar kedalam display promosi yang menarik dan persuasif bagi konsumen sehingga mereka tertarik untuk melakukan pembelian. Misalkan penawaran special khusus hari ini anda cukup membayar seharga Rp. 99.999,- untuk mendapatkan barang ini, buy one get two, diskon hingga 50% khusus member. Intinya adalah bagaimana mengimplementasikan kreatifitas kita kedalam sebuah kalimat promosi yang persuasif dan menarik bagi konsumen.

5.       Paket (Kombinasi Dengan Barang Baru)
Cara lainnya yang bisa dilakukan untuk menekan produk stock lama yang tersisa adalah dengan sistem paket dimana produk tersebut kita kemas dan kita jual dengan produk stock baru. Misalkan sepatu yang merupakan produk stock lama dikemas dengan tas kulit yang merupakan produk stock baru, dan tentu saja value atau daya tarik yang dijual kepada konsumen adalah special price dimana mereka bisa mendapatkan kedua item tersebut dengan harga special.

6.       Bonus (On The Spot)
Stock barang lama tidak selalu harus dijual karen kita bisa menggunakannya sebagai item bonus (promo khusus untuk konsumen), dimana biasanya promo ini berlaku khusus konsumen yang melakukan pembelian on the spot pada periode tertentu misalkan konsumen yang pada periode promo ini melakukan pembelian pada kelipatan tertentu atau minimal Rp. 250.000,- mendapatkan bonus item berupa 1 set mug cantik *yang notabene barang stock lama atau sisa. Semua kembali lagi pada kekuatan copywriting promo yang menarik dan persuasif untuk menarik konsumen supaya membeli lebih banyak atau sering untuk mendapatkan item bonus selama periode promosi. Selain menjadi item bonus program ini juga sebagai bentuk C.R.M Costumer Relationship Management bagi bisnis kita.

7.       Prize For Kuizz (On-line)
Kurang lebih sama dengan konsep Bonus (On The Spot) menjadikan produk stock lama sebagai hadiah untuk konsumen kita namun yang membedakan disini adalah lebih pada implementasi program. Jika sebelumnya kita berfokus pada aktifitas promosi di dalam toko (instore activity) kini kita fokus pada promo online yang sekali lagi memanfaatkan fasilitas Social Media (Facebook & Twitter) sebagai media. Dalam hal ini kita mengajak fans ataupun follower kita untuk berpartisipasi mengikuti kuizz yang berhubungan dengan bisnis kita dimana hadiahnya adalah beruba item tertentu yang sudah disediakan. Misalkan Twitter pada saat konsumen berbelanja diminta mention bahwa dirinya sedang di sebuah retail store yang sedang menyelenggarakan promo diskon besar-besaran atau melalui Facebook fans diminta mengirimkan foto dirinya saat menggunakan produk kita dimana akan di publish di Facebook, yang paling banyak di like atau dikomentari berhak mendapatkan hadiah.

8.       Item For Barter Promo
Produk barang stock lama juga bisa kita manfaatkan untuk menjalin kerjasama barter promo, misalkan sebuah retail store fashion kerjasama dengan sebuah cafe dimana retail store fashion misalkan memberikan 12 item produk stock lama sebagai hadiah promo cafe yang diajak barter, dimana setiap konsumen mereka yang berbelanja nominal atau kelipatan tertentu akan diberikan salah satu item tersebut. Feedbacknya bagi retail store fashion berhak menempatkan material promosi Flyer & Roll Banner di cafe tersebut, sebuah solusi promosi yang layak dilakukan bukan?

9.       Display Change
Display barang di toko (retail store) terkadang menjadi alasan kenapa sebuah produk dibeli atau dihindari oleh konsumen, dengan demikian display barang juga menjadi bagian penting dalam proses menekan produk stock lama supaya terjual. Beberapa diantaranya bisa dilakukan upaya mengubah tampilan display “point of purchase” lebih menarik, menempatkan display produk stock lama di barisan paling depan, menempatkan display produk stock lama berdekatan dengan produk baru, atau misalkan menyatukan beberapa display barang stock lama dengan yang baru. Semua hal tersebut ditujukan supaya barang-barang stock lama lebih sering dilihat atau pertamakali dilihat oleh konsumen sehingga kemungkinan pembelian semakin besar. (dira.illanoor - juni 2012)

Social Media : Warning Viral Mode On


*sumber gambar : google

Masih ingatkah beberapa waktu lalu mengenai kisah Dahlan Iskan – Mentri BUMN yang sempat menjadi trending topic di Social Media (Twitter) pada saat membuka akses pintu Tol Ancol dan membiarkan beberapa kendaraan lewat begitu saja untuk mengurai kemacetan sepanjang hampir 10 KM. Tidak membutuhkan waktu lama, selang beberapa jam isu ini langsung diberitakan di berbagai media nasional setelah sebelumnya menjadi trending topic yang paling dibicarakan orang-orang di Twitter.

Selain itu masih segar juga dalam ingatan kita mengenai kasus “Koboy Pancoran” yang berhasil direkam oleh publik melalui video handphone, kisah ironis seorang oknum anggota TNI yang secara disayangkan telah menyalah gunakan senjata api yang telah diamanahkan kepadanya sebagai alat untuk ajang pamer dan “menakuti” publik hanya gara-gara kasus mobil yang diserempet oleh pengendara sepeda motor. Sebelum berita ini muncul kepermukaan di beberapa televisi nasional, isu ini sudah menjadi trending topic terlebih dahulu melalui social media (facebook, twitter, dan youtube).

kedua berita di atas membuktikan bahwa secara tidak langsung keberadaan social media kini menjadi channel alternatif media informasi yang selama ini didominasi oleh elektronik dan media cetak. Bukan hanya mengenai nilai kualitas dari sebuah berita saja namun juga faktor kecepatan dari sebuah berita kini ikut diperhitungkan oleh publik. Social Media memenuhi faktor kecepatan tersebut, dimana kini semua orang bisa berpartisipasi menjadi bagian dari Citizen Journalism”.

Di era teknologi informasi ini nampaknya kebutuhan publik mengenai informasi sangat cepat dan hal ini yang menjadikan pemenuhan mengenai informasi kini tidak bisa hanya mengandalkan keberadaan media cetak maupun elektronik saja, dan kemunculan Social Media (twitter) salah satunya saat ini sangat berperan sebagai media penyebaran informasi. Dua contoh berita yang sempat disinggung merupakan salah satu contoh informasi (berita) yang bisa dibilang mendahului media informasi konvensional dalam hal ini media elektronik dan cetak.

masih ingat ketika saya bertemu dengan salah satu jajaran direksi televisi nasional di Indonesia, dimana beliau pernah mengatakan bahwa keberadaan Social Media (twitter) ini baginya cukup membingungkan (50 : 50). Disatu sisi menjadi kompetitor karena seringkali menjadi akses informasi (berita) bagi publik karena dinilai lebih “cepat” dan “praktis” yang kini banyak diakses publik, namun disatu sisi mereka tetap membutuhkan Social Media (twitter) sebagai media enggament mereka dengan publik (follower) untuk dikonversi menjadi penonton acara mereka (audience)”.

Dari sini mungkin bisa kita bahas sedikit mengenai kenapa Social Media memiliki sifat viral, dimana viral disini diumpakakan sebagai kondisi percepatan penyebaran informasi. Viral tidak hanya dalam konteks positif saja namun bisa juga negatif, nah jika sebuah informasi yang memiliki nilai berita positif saja bisa menyebar luas secara cepat seperti virus apalagi sebuah informasi yang memiliki nilai berita negatif.

Segala sesuatu memang sudah pasti ada sisi positif dan negatifnya, jika kita amati dalam konteks positif keberadaan Social Media yang bersifat viral ini bisa menjawab kebutuhan publik akan akses informasi yang cepat. Sedangkan bagi para pebisnis yang sudah nyemplung menggunakan Social Media sebagai salah satu tools pemasaran mereka, saya kira kondisi ini menjadi angin segar bagi mereka khususnya dalam proses penyebarluasan informasi via Social Media.

Masih ingat dengan terobosan yang dilakukan oleh Mak Icih yang menggunakan Social Media (twitter) sebagai channel utama pemasaran, berkat konsep & konten yang menarik Mak Icih berhasil meraup untung setelah menjadi trending topics yang menimbulkan efek W.O.M via twitter. Positif bukan berarti tidak ada negatif impactnya, sifat viral ini juga bisa menjadi boomerang yang akan cepat menjamur menyebarluaskan informasi (berita) negatif. Seperti salah satunya kasus Pilot Lion Air off duty kedapatan sedang mengkonsumsi narkoba yang sempat menggoyang citra dari maskapai penerbangan no 2 di Indonesia itu.

kondisi ini yang mengharuskan kita selaku individu bisa memilah dalam mencerna sebuah informasi (berita), akses teknologi informasi salah satunya Social Media Twitter memungkinkan publik untuk menjadi bagian dari sebuah informasi - Citizen Journalism, atau menjadi bagian dari penyaluran informasi tersebut. Sifat dasar orang Indonesia yang senang berbagi mengenai sesuatu hal terkadang jika tidak mencerna keberadaan sebuah informasi dengan baik bisa menjadi boomerang, masih ingat isu meninggalnya drumer Slank bim-bim yang sempat ramai dibicarakan di twitter?”.

Nah ngomongin viral mode yang bisa positif dan bisa juga negatif, nah sekarang kita bahas sedikit yuk mengenai keduanya :
A.      Positif Viral Mode

·         Konten
Dalam menghasilkan efek viral mode positif melalui social media hal yang pertama kali harus kita perhatikan adalah konten (materi) yang akan di share kepada publik. Selain informasi harus menarik dan bermanfaat untuk publik, penting untuk diperhatikan konten informasi yang akan kita share harus singkat, padat, dan jelas karena notabene khususnya Twitter memberi batasan 140 karakter.
Nah bagi kita yang hanya sebagai mediasi (bagian dari tersebarnya sebuah informasi), selain kita bisa memiliah mana informasi yang layak untuk di share ada baiknya kita cerna terlebih dahulu (validasi) konten materi informasi tersebut. *masih ingat kasus kematian drumer Slank bim-bim yang sempat menjadi pembicaraan di Social Media? dan ternyata hanya ulah seseorang yang tidak dapat dipertanggung jawabkan informasinya.

·         No Pic = Hoax
Bagi para pengguna Twitter nampaknya sudah tidak aneh dengan istilah tersebut, nah jika kita berniat memberikan atau menjadi bagian dari tersebarnya sebuah informasi yang bermanfaat ada baiknya jika kita sertakan foto dokumentasi atau gambar yang berhubungan dengan informasi tersebut (example : informasi mengenai kemacetan atau kecelakaan lalulintas kita sertakan foto dokumentasi keadaan tersebut).

·         Additional Link
Ada baiknya jika kita khususnya yang ingin share mengenai informasi bermanfaat harus mempersiapkan sebuah link home pages khusus (bisa berupa website atau blog) yang tujuannya adalah menutupi pembatasan 140 karakter oleh Twitter dimana melalui home pages ini kita bisa memberikan informasi yang lebih detail (memperkecil celah terjadinya miss understanding & perseption dikarenakan keterbatasan penyampaian informasi).

·         Mention Some Account
Nah setelah kita memiliki konten informasi yang memang bermanfaat bagi publik, sebagai langkah awal adalah kita share mention informasi yang sudah disertai link tersebut kepada beberapa account Twitter yang dinilai memiliki banyak follower (at least follower mereka akan membaca informasi yang kita share, dan untuk beberapa account Twitter akan me-retweet informasi tersebut dengan sendirinya jika memang dinilai bermanfaat).

B.      Negatif Viral Mode

·         Find The Sources
Jika kita dihadapkan dengan sebuah informasi viral negatif makan yang bisa kita lakukan adalah dengan menelurusi sumber dari informasi ini. Tujuannya bagi individu adalah kita bisa menyaring (filter & validasi) informasi tersebut sebelum kita share kepada publik, sedangkan untuk sebuah brand atau perusahaan hal ini bertujuan untuk mencari tahu sumber dari informasi tersebut jika mereka dihadapkan dengan informasi yang memiliki dampak negatif terhadap brand image mereka.

·         Koordinasi Dengan Sumber
Jika sudah mengetahui sumber dari informasi viral negatif, maka kita lihat sudah sejauh mana dampak yang dihasilkan oleh informasi tersebut. Sebisa mungkin kita bisa koordinasi dengan pemilik account tersebut misalkan menanyakan darimana sumber informasi yang mereka share kepada publik dan apa motifnya. Jika bisa diselesaikan secara kekeluaragaan maka akan lebih baik, kita minta sumber untuk melakukan klarifikasi mengenai informasi tersebut, namun jika memang informasi tersebut valid meski negatif bagi sebuah brand maka yang diharuskan adalah pihak brand tersebut yang melakukan klarifikasi. Bagi kita individu yang menjadi bagian dari citizen journalism, bisa ikut berkontribusi untuk mengklarifikasi sebuah informasi yang ternyata tidak valid atau tidak dapat dipertanggung jawabkan.

·         Klarifikasi
Dalam menghadapi sebuah informasi yang sifatnya negatif sebuah brand atau perusahaan khususnya harus siap dengan aktifitas press conference (klarifikasi) baik melalui media online Twitter atau melalui berbagai media terkait lainnnya. Tujuannya supaya publik dalam hal ini pengguna Twitter tidak dibingungkan dengan berbagai informasi yang tersebar luas di Social Media. (dira.illanoor - juni 2012)