Hijabs From Fashion – To Community – To Business


sumber gambar : google


        Tulisan ini terlintas dalam benak saya ketika saya menemani sang istri datang ke sebuah event Fashion Expo Ramadhan di Kota Bandung. Dalam event tersebut saya melihat lebih dari 100 tenant yang berpartisipasi dalam event tersebut menawarkan fashion busana muslimah wanita. Apa yang ingin saya bahas dari fenomena tersebut? sederhana saja dari pengamatan saya tersebut nampaknya perkembangan busana muslim untuk wanita (hijab) selama satu tahun kebelakang ini bisa dibilang sedang menjadi trend di kalangan wanita muslimah, dimana stigma dari persepsi berkerudung itu kuno bisa di dobrak dengan munculnya konsep kerudung modern yang lebih fashionable dan trendy.

Nah berangkat dari fashion yang lambat laun berkembang menjadi sebuah komunitas (community based), yang secara perlahan namun pasti dari komunitas yang sudah terbangun tersebut muncul sebuha celah peluang bisnis baru khususnya dalam industri fashion. Jujur saja bagi saya pribadi dulu mungkin saya hanya aware pada merk “rabbani” salah satu pemain yang sudah lama fokus berkecimpung dalam bisnis busana muslim, hingga pada akhirnya saat ini banyak bermunculan brand-brand independent yang kini terjun kedalam bisnis busana muslim modern (hijab). Dari Prolog yang sudah saya jabarkan tersebut saya ingin memetakan sedikit mengenai fenomena Hijab yang terus berevolusi dari fashion, menjadi community based, sampai akhirnya menjadi sebuah bisnis.

·         Behaviour Change
Kini saya kira menggunakan hijab bagi wanita muslimah tidak hanya sekedar syariat agama saja namun juga menjadi bagian dari kebutuhan dalam hal fashion (needs). Dan faktor utama yang paling berpengaruh dalam pembentukan needs adalah media online, karena melalui media online yang saat ini diakses oleh hampir 60 juta jiwa memungkinkan adanya stimulus-stimulus yang dapat memunculkan needs tersebut salah satunya misalkan pengaruh (referensi) fashion dari luar negeri. Kemunculan social media juga menjadi pengaruh yang sangat besar, karena di dalamnya memungkinkan terbentuknya community based (people with same interest and same needs) juga proses penyebaran informasi yang sangat cepat (viral mode).

·         Social Media


Seperti yang sudah saya sebutkan mengenai social media sebagai salah satu media yang ikut berpengaruh dalam perkembangan trend fashion busana muslim (hijab), realitanya berangkat dari behaviour change tadi dengan banyaknya individu yang memiliki interest dan needs yang sama pada akhirnya disatukan kedalam sebuah wadah yang dinamakan komunitas. Social Media merupakan salah satu media yang bisa menfasilitasi komunitas ini khususnya dalam berbagi dan berinteraksi dengan anggota komunitas yang saya sebutkan tadi memiliki ketertarikan dan kebutuhan yang sama.

Salah satunya adalah Hijabers Community (@HijabersComm) sebuah komunitas wanita muslimah yang menggunakan Hijab. Sifat social media yang memiliki efek viral mode menjadikan penyebaran informasi ini berkembang lebih cepat dibandingkan media konvensional, buktinya banyak saya temukan account-account komunitas serupa bahkan sampai mewakili komunitas secara regional (Bandung, Semarang, Jogja).

Tidak hanya Facebook atau Twitter saja saya kira Blog juga ikut berpengaruh dalam perkembangan hijab di Indonesia. Melalui blog ini seolah-olah sudah dibuat sebuah wadah komunitas yang resmi di dunia online, melalui blog ini mereka bisa berbagi informasi lebih banyak (example : info event, video tips menggunakan hijab, bisnis). Berangkat dari interaksi secara online komunitas ini berkembangan kedunia offline dimana mereka pada akhirnya bertemu dan melakukan pertemuan secara rutin, hanya sekedar kopi darat saja atau menyelenggarakan sebuah kegiatan.

·         Muncul Icon Hana Tajima & Dian Pelangi


Hana Tajima Simpson fashionista Inggris yang lama bergelut di dunia mode kini aktif menekuni lini busana muslimah trendy syar’i dengan merk Maysaa. Rancangan Hanna simple dan mengikuti trend namun tetap mempertahankan syar’i. Hana yang menjadi mualaf 5 tahun lalu, sampai akhirnya memutuskan berbusana muslimah sadar bahwa ia harus berbuat sesuatu untuk menciptakan busana muslimah, diawali dari merintis sebuah blog fashion sampai akhirnya memproduksi majalah mode Maysaa. Melalui media online juga, blog, social media, Hana juga banya dikenal di youtube dimana melalui youtube dia upload video-video tutorial menggunakan hijab yang trendy namun syar’i. Kini dia menjadi ikon baru generasi muda Inggris yang muda, energic, modis, dan muslim.


Berlainan dengan Hana Tajima, Dian Pelangi pada awalnya resah ketika mendengar wanita pemakai jilbab (hijab) dicitrakan kuno, tua, dan kampungan. Dian yang tumbuh di keluargan islami dan memiliki background ayah pengusaha garmen dan ibu pemilik butik muslim tertantang membuat sebuah perubahan. Berbekal pendidikan tata busana dan agama ia ambil alih usaha butik ibunya tanpa menerjang pakem syariat Islam, secara perlahan ia berhasil mengubah citra negatif busana muslim lewat rancangannya yang stylish dan trendy. Di tengah sukses sebagai perancang muda, wanita kelahiran 14 Januari 1991 itu menelurkan “Hijaber Community”.

Kedua icon tersebut saat ini menjadi sosok yang bisa dibilang paling berjasa dalam perkembangan busama muslimah (hijab) di Indonesia bahkan dalam konteks bisnis. Banyaknya bermunculan pelaku bisnis independen di Fashion Expo yang saya sebutkan tadi bisa dibilang terinspirasi oleh kedua sosok yang kini menjadi icon busana muslimah (hijab) modern, bahkan para pelaku bisnis busana muslimah yang sudah lama ada kini saya kira mau tidak mau harus mulai memperhatikan dan menyesuaikan dengan trend masa kini jika tidak mau bisnisnya disalip oleh kemunculan pelaku binis independen.

·         Stimulus Event
Setelah tadi saya jelaskan mengenai faktor Behaviour Changes, pengarush Social Media, dan munculnya icon penggebrak perkembangan bunana muslim modern Hana Tajima dan Dian Pelangi menjadi benang merah dari perkembangan Hijab dari Fashion menjadi Community Based sampai pada akhirnya menjadi sebuah bisnis. Khusus mengenai konteks bisnis saya kira ini juga banyak dipengaruhi dengan adanya stimulus event yang memang diperuntukan bagi mereka para pelaku bisnis baru. Berawal dari bisnis yang secara perlaha mereka garap secara online (social media salah satunya), dengan munculnya event-event salah satunya seperti Ramadhan Expo ini menjadi faktor encourage bagi para pelaku bisnis busana muslim modern untuk muncul di dunia offline supaya lebih dikenal oleh konsumen. (dira.illanoor - 2012)

Komentar

Postingan Populer