Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Selasa, 09 September 2014

Mastin Memang Good!

sumber gambar : http://media.infospesial.net/image/p/2014/07/jason-mraz-ternyata-juga-demam-iklan-mastin-951e.jpg


Kabar Gembira Bagi Kita Semua...
Kulit Manggis Kini Ada Ekstraknya...
Mastin Good…

Nah saya yakin pasti para pembaca cukup familiar dengan beberapa penggalan kalimat diatas, yup itulah beberapa penggalan kalimat “sakti” yang melekat dalam iklan produk kesehatan yang belakangan cukup rajin menghiasai iklan komersial beberapa stasiun tv lokal. Nggak cuma itu, bahkan rangkaian kalimat yang merupakan lirik lagu tersebut menjadi bahan guyonan di social media, salah satu adalah celetukan pertanyaan “ada kabar gembira loh untuk kita semua?” yang dilanjutkan dengan jawaban “kulit manggis kini ada ekstraknya”.

Dalam tulisan kali ini tentunya saya nggak akan ngebahas mengenai fenomena lirik lagu dalam iklan produk Mastin yang menjadi fenomena populer di social media, namun lebih kepada kesuksesan Mastin dalam menciptakan sebuah iklan yang bisa melekat di benak masyarakat dibedah dari aspek pemasaran dan perilaku konsumen. Tulisan kali ini sebenarnya dilandasi oleh kisah menarik dari saudara saya di Bekasi yang bercerita mengenai anaknya yang kini berusia kurang lebih 5 tahun pada saat diajak ke sebuah pasar swalayan, saat itu keponakan saya nyeletuk “Bunda itu buah Mastin ya?” sesaat ketika dia melihat buah Manggis di antara jejeran stand buah-buahan, kontan saudara saya yang bercerita saat itu menjelaskan dirinya spontan tertawa takala mendengar ucapan anaknya yang polos dan lucu tersebut.

Oke hal pertama yang bisa diambil dari cerita tersebut tentunya adalah bagaimana pesan di dalam sebuah iklan bisa ditangkap dengan mudah oleh keponakan saya yang notabene masih berusia 5 tahun, memang sih nggak terasosiasi secara langsung (Mastin = Ekstrak Kulit Manggis), namun secara tidak langsung keponakan saya memberikan gambaran bagaimana mudahnya iklan tersebut dicerna bahkan oleh anak-anak (dalam hal ini yang dia pahami adalah Mastin = Buah Manggis). Nah dikalangan konsumen dewasa tentunya saya meyakini jika pesan ini bisa diserap dengan mudah, yang tentunya juga memiliki positioning yang lebih kuat dibanding produk kompetitor yang juga belakangan muncul di tv.

1.       Behavioral Learning - Classical Condition
Dalam teori prilaku konsumen ada yang namanya Behavioral Learning - Classical Condition, dimana dalam hal ini sebuah neutral object (brand) bisa diasosiasikan dengan sebuah objek atau konsep (unconditional stimulus) yang memiliki makna tertentu, dimana melalui proses asosiasi ini konsumen bisa menangkap makna yang disampaikan (conditional respond). Dalam kasus ini neutral object sendiri adalah brand Mastin, sedangkan unconditional stimulus merupakan beberapa kalimat yang dirangkai dalam sebuah lagu, sehingga conditional respond yang dihasilkan adalah konsumen akan cepat terasosiasi dengan brand Mastin jika dihubungkan dengan ekstrak kulit manggis. Nah terlepas dari apakah ini memang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh pemilik brand atau pihak creative agency, saya kira fenomena ini merupakan contoh nyata keberhasilan sebuah iklan mengadaptasi teori perilaku konsumen, karena dalam aplikasinya teori ini juga sudah diaplikasi oleh beberapa brand besar. Salah satunya adalah Coca Cola dengan jinglenya dan Paseo yang menggunakan burung merpati untuk menggambarkan kelembutan produknya sebagai unconditional stimulus.

2.       Message Easy To Remember
Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pesan asosiasi “ekstrak kulit manggis” ini disisipkan dalam sebuah lirik lagu jenaka yang mudah diingat, terlebih iklan ini cukup rajin nongol di beberapa acara tv prime time, alhasil konsumen mudah ingat dan cepat terasosiasi pada brand Mastin. Key point yang bisa dijadikan pembelajaran disini adalah bagaimana kita mengcreate (what to) sebuah pesan dan bagaimana menyampaikannya (how to) dengan effektif. Nah dalam kasus ini pesan diciptakan semudah mungkin supaya gampang diingat oleh konsumen melalui rangkaian lirik lagu jenaka. Apa yang terjadi di social media (menjadikan lirik tersebut sebagai guyonan) tentunya semakin menjadikan brand ini makin populer dan makin diingat oleh calon konsumen, walapun memang belum menjadi jaminan mereka akan menjadi konsumen, namun disatu sisi proses membangun brand awareness dan brand associate brand ini bisa dibilang berhasil.

3.       #KISS

KISS disini bukan band rock yang identik dengan makeup hitam dan putih dengan berbagai corak yang menghiasi setiap wajah personil saat diatas panggung, adalah “Keep It Simple and Stupid” yang dimaksudkan. Kutipan tersebut pada dasarnya merupakan sebuah ungkapan bahwa dalam menciptakan konsep sebuah iklan komersial ataupun sebuah kampanye pemasaran konvensional atau digital, terkadang kita bisa menggunakan istilah KISS tersebut karena pada dasarnya “kesederhanaan” dan “kelucuan” yang dikemas bisa menjadi sebuah awal dari keberhasilan. Sebagai contoh bagaimana kampanye #IceBucketChallanges yang pada awalnya dijadikan bahan lucu lucuan oleh netizen, berhasil dijadikan sebagai sebuah jembatan bagi program kemanusiaan #ALSIceBucketChallanges dalam mengkampanyekan edukasi dan dukungan terhadap penyakit kanker. So does Mastin KISS enough for you? for me personally, indeed. (dira.illanoor – september 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar