Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Kamis, 28 Agustus 2014

Learn From #ALSIceBucketChallanges


sumber gambar : http://www.trbimg.com/img-53ee6c74/turbine/la-fi-tn-top-5-ice-bucket-tech-cook-gates-2014-001/500/16x9


Belum lama ini di jejaring social media cukup ramai diperbincangkan mengenai campaign #ALSIceBucketChallanges yang merupakan campaign yang ditujukan untuk penggalangan dana bagi korban yang mengidap sejenis penyakit kanker bernama ALS (Amytrophic Lateral Sclerosis). Hasil googling yang say abaca menjelaskan kalo campaign ini sebenarnya pada awalnya diadaptasi dari campaign #IceBucketChallanges yang menantang menyiramkan air es dimana pada akhirnya hal ini menjadi bagian dari misi kemanusiaan baik dalam memberikan dukukang atau donasi seperti #ALSIceBucketChallanges yang ditujukan untuk korban penyakit ALS.

Di negara asalnya America campaign #ALSIceBucketChallanges ini sempat heboh di social media bahkan melibatkan figur seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, Oprah, hingga presiden Barack Obama yang lebih memilih mendonasikan $100 (kurang lebih 1 juta rupiah) sebagai wujud dukungan daripada menyiram dirinya dengan air es. Hal ini juga menarik perhatian dan partisipasi kalangan artis dunia seperti Justin Timberlake hingga pemain bola sekelas David Beckham. Bagaimana dengan Indonesia? baru-baru ini campaign #IceBucketChallanges juga cukup ramai diperbincangkan di dunia maya dan pertelevisian Indonesia, hingga diantaranya kalangan artis Pandji dan pesepakbola Bambang Pamungkas juga turut meramaikan timeline.

Seperti yang sudah dijelaskan #ALSIceBucketChallanges ini merupakan campaign penggalangan dukungan dan donasi untuk korban ALS, rulenya sangat sederhana kita diharuskan menyiramkan satu ember air es keseluruh badan kita dan mendokumentasikannya dalam bentuk video, dimana dalam video tersebut kita menantang seseorang untuk melakukan hal sama seperti yang kita lakukan. Nah video yang tersebut selanjutnya kita share via social media Facebook, Twitter, Instagram, hingga Youtube dimana si pihak tertantang punya waktu 1x24 jam untuk melakukan hal yang sama atau membayarkan donasi seniali $100 sebagai bentuk hukuman karena tidak melakukan tantangan ice bucket tersebut.

Nah berbicara mengenai fenomena ini, dalam tulisan kali ini saya lebih ingin membahas mengenai lesson learn dari fenomena ini yang tentunya bisa kita aplikasikan dalam sebuah campaign yang akan kita jalankan melalui digital media seperti social media, karena dalam aplikasinya #ALSIceBucketChallanges merupakan salah satu contoh bagaimana sebuah campaign kemanusiaan yang bisa menjadi viral di digital media bahkan berhasil menarik perhatian dan partisipasi masyarakat baik dalam bentuk ice bucket hingga bantuan donasi. Apa saja lesson learn yang bisa kita ambil? monggo dibaca.

1.       Defines Clear Objectives (Cause)
Hal pertama yang bisa kita jadikan pelajaran dari #ALSIceBucketChallanges adalah objetif yang ada di belakangnya dimana dalam hal ini adalah mengumpulkan dukungan dan donasi untuk korban ALS, hal paling sederhana tentunya adalah Netizen menjadi aware mengenai penyakit ALS dan selanjutnya mereka akan terdorong untuk berpartisipasi dengan ikut serta tantangan ice bucket sebagai bentuk dukungan atau memilih memberikan donasi kemanusiaan dalam bentuk uang. Nah dengan demikian penting bagi kita untuk memiliki objektif yang sangat jelas dalam menjalankan sebuah campaign digital sehingga Netizen bisa memahami dengan jelas apa maksud dan tujuan dari program yang kita jalankan. #ALSIceBucketChallanges ini juga membuktikan bagaimana kita bisa mengemas sebuah aktifitas yang pada awalnya hanya sebagai aktifitas “lucu-lucuan” bisa menjadi sebuah media dalam mengusung isu kemanusiaan. saya kira dengan beberapa penyesuaia strategi ini bisa juga diterapkan dalam program corporate social responsibility (CSR) yang akan dijalankan melalui media digital seperti social media.

2.       Clear Rules
Hal kedua yang bisa dijadikan pelajaran dari #ALSIceBucketChallanges adalah berikan arahan kepada Netizen mengenai bagaimana cara berpartisipasi, seperti kampanye ini yang memiliki alur yang sangat jelas dan mudah dipahami karena pada dasarnya orang cuma tinggal mendokumentasikan kedalam bentuk video pada saat mereka menyiramkan air es ke diri sendiri, selanjutnya video yang sudah disertai tantangan tersebut kita share melalui jejaring social media, dan jika si tertantang gagal dia harus membayarkan sejumlah donasi sebagai bentuk dukungan.

3.       Make It Simple, Easy, and Fun
Hal ketiga yang bisa dijadikan pelajaran dari #ALSIceBucketChallanges adalah make it simple, easy, and fun, dimana dalam hal ini aktifasi yang kita buat nggak mesti ribet karena dalam aplikasinya semakin sederhana dan mudah maka Netizen akan semakin terdorong untuk berpartisipasi terlebih jika diberikan trigger reward seperti misalkan hadiah. Point selanjutnya adalah jadikan aktifasi yang kita jalankan menyenangkan bagi peserta, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya dalam program #ALSIceBucketChallanges ini faktor fun yang ada pada saat momentum menyiramkan air es berhasil menjadi trigger dalam menyampaikan misi kemanusiaan mengenai ALS. Hal ini yang saya nilai berhasil dimana kampanye ini tidak hanya menjadi viral saja namun juga secara esensi kampanye orang aware dan teredukasi mengenai penyakit ALS, lebih jauh orang juga terdorong untuk berpatisipasi mendukung program ini dengan mengirimkan video hingga memberikan donasi uang.

4.       #Hastag Goes Viral

Hal terakhir yang bisa dijadikan pelajaran dari #ALSIceBucketChallanges tentunya adalah penggunaan # (hastag) sebagai bumbu wajib dalam menyelenggarakan sebuah aktifasi yang akan dijalankan melalui media digital seperti social media. Penggunaan hastag tentunya akan menjadikan program kita mudah ditemukan oleh Netizen untuk selanjutnya menjadi perbincangan (viral) di social media. (dira.illanoor – agustus 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar