Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Selasa, 01 Juli 2014

“Key Opinion Leader” Digital


sumber gambar : http://www.optimice.com.au/images/Network_2.jpg


Mengawali bulan Juli, dalam tulisan kali ini saya akan coba bahas sedikit mengenai KOL (key opinion leader), nah apa sih sebenarnya KOL? sederhananya KOL itu sosok individu yang ide, pemikiran, dan ucapannya dipercaya oleh sekelompok orang yang tentunya bisa mempengaruhi (menjadi influence) orang-orang yang ada di circlenya si KOL. Kalo ngomonin apa pengaruhnya ya macem-macem, misalkan orang-orang di circlenya si KOL memiliki perubahan pendapat dan sikap.

Ngomongin KOL di ranah Marketing tentunya hal ini sudah banyak diaplikasikan di dalam aktifitas branding atau pemasaran dalam upaya mempengaruhi atau merubah persepsi konsumen sehingga mereka memiliki pemikiran atau sikap yang seperti kita inginkan, ya paling sederhananya mereka beli produk kita. Contoh sederhana yang biasa kita lihat di media konvensional adalah iklan pasta gigi yang menggunakan sosok dokter ahli kesehatan gigi sebagai KOL, yang di dalam iklannya sang dokter merekomendasikan pasta gigi tersebut karena berdasarkan hasil penelitian klinis zat-zat yang terkandung dalam produk pasta gigi bisa membantu melindungi dan memperbaiki gigi kita, alhasil konsumen tentunya mempercayai sosok sang dokter yang memang ahli di bidangnya, selanjutnya kita membeli dan menggunakan produk tersebut karena dinilai secara klinis bermanfaat bagi gigi kita.

Nah karena sekarang kita bahas mengenai KOL di media digital, apa yang berbeda? sebenarnya kalo menurut saya pribadi secara kontekstual tidak ada yang berbeda, karena balik ke tujuan utama adanya KOL adalah menjadi opinion leader di satu kelompok (circle) untuk mempengaruhi (influencing) baik secara sikap dan prilaku mereka. Kalo kita lihat trend social media saat ini bisa dibilang memiliki peran utama dalam aktifitas branding dan pemasaran sebuah brand, dan nggak jarang brand –brand yang nyemplung ke digital media menggunakan KOL dalam upaya menciptakan viral dan word of mouth di antara Netizen. Paling sering kita lihat banyak account “branded” personal, account anonym, bahkan hingga fans atau follower sendiri menjadi bagian penting terbentuknya opini publik dan viral di social media. Nah berencana menggunakan KOL di media social? mungkin beberapa point penting ini bisa menjadi insight tambahan, monggo.


1.       Who Your Audience
Hal paling mendasar sebelum menentukan KOL tentunya adalah mengenali siapa netizen yang kita sasar, sama seperti menetapkan siapa target market kita.  Nah hal ini tentunya perlu dilakukan utamanya untuk menentukan siapa sosok KOL yang dinilai cocok untuk masuk ke circle tertentu yang ingin kita dekati sehingga lebih efektif dalam memberikan pengaruh, biasanya paling gampang kita cari sosok yang nggak cuma sesuai dengan brand atau produk kita namun juga memiliki minat atau interest sama, dan yang terpenting mereka dipuji (adore) oleh target kita.

2.       Cross Check Your KOL
Ketika sudah menetapkan satu sosok KOL ada baiknya kita juga melakukan kros cek background dari KOL tersebut, paling sederhana ya liat sosok pribadi dan track record dia di social media dari sisi positif dan negatifnya, jangan sampai karena publik yang cenderung menilai negatif akan berimbas pada brand kita nantinya. Selanjutnya apakah dia pernah menjadi KOL sebelumnya, kalo iya usahakan jangan sampai kita menggunakan KOL yang sudah dipake oleh brand kompetitor. Nah diluar hal tersebut saya kira jumlah fans atau follower juga menjadi perhatian utama untuk menciptakan viral yang maksimal di social media.

3.       Public Figure, Anonym, or your True Fans & Followers
Ngomongin penggunaan KOL di social media tentunya ada beberapa karakteristik yang bisa digunakan, ada sosok public figure yang biasanya didominasi oleh para artis yang memiliki fan based besar, ada sosok professional yang berhasil membangun personal brandnya di social media, account-account anonym yang biasanya disebut buzzer juga, hingga fans dan follower kita yang cukup aktif dan menonjol di antara fans dan follower lainnya. Kalo ditanya yang mana lebih efektif? jawabannya tentunya balik lagi ke siapa audience kita dan siapa KOL yang dipake, karena kalo ngomongin karakteristik KOL semuanya bagus kok selama memang tepat sasaran.

4.       Content is a King
Sebagus-bagusnya KOL mereka hanyalah mediasi diantara kita dengan target market yang disasar, itu opini pribadi saya. Nah sebagai brand tentunya kita harus mempersiapkan konten untuk sang KOL, dalam hal ini hal apa yang akan disampaikan kepada target market yang kita sasar. Tentunya konten yang kita siapkan harus menarik dan biki orang penasaran (curious) sehingga mereka pada akhirnya akan bergerak (push to act) entah itu reply, comment, retweet, favorit, apapun itu. Nah jangan lupa dalam konten yang dishare juga ada baiknya disertakan dengan link tertentu yang bisa mendrive orang untuk lebih banyak berbuat, misalkan direct ke landing pages dimana orang bisa baca tulisan, partisipasi dalam satu program, isi database, nonton video, apapun, karena balik ke objektif awal adanya KOL untuk mendrive public untuk berbuat (act) nggak cuma sebatas di tataran pikiran (thought) saja, nah link ini juga sebenarnya bisa menjadi tools yang bisa digunakan oleh target market kita untuk menginfluence circle yang ada di dalam account facebook atau twitternya.

5.       Mission Conversation & Viral

Karena namanya KOL di media digital (2.0), tentunya selain output akhir yang diharapkan dengan adanya KOL adalah perubahan pola pikir dan perilaku, misi menciptakan conversation dan viral juga penting untuk diperhatikan. Nah dengan demikian perlu untuk dipertimbangkan salah satu konten yang dilempar ke publik bisa menciptakan perbincangan dua arah (two ways) sehingga komunikasi menjadi lebih efektif dan jangan lupa menggunakan hastag (#) ya supaya bisa lebih viral (dira.illanoor – juli 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar