Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Sabtu, 29 Maret 2014

Memanusiakan Brand Lewat Social Media


image source : http://thehrblog.ecornell.com/wp-content/uploads/sites/2/2013/05/Screen-Shot-2013-05-23-at-1.53.51-PM-2.png


Wuih nggak kerasa udah lama nih nggak nulis akhirnya di minggu pagi yang cerah ini bisa nulis lagi, tulisan kali ini judulnya memanusiakan brand lewat social media, intinya sih saya pengen share sedikit pandangan mengenai perlunya kita memanusiakan brand kita di social media, dalam artian nggak cuma sebates bikin account, share content, dan bangun engagement dengan followers aja. Era digital tentunya memaksa pemilik brand untuk membangun account social media brand sebagai bentuk eksistensi di digital media sekaligus dalam upaya membangun engagement dengan netizen, cuma dalam aplikasinya terkadang hal yang paling mendasar (esensi utama) kadang terlupakan di dalam proses membangun account brand tersebut.

Sebenarnya kalo dianalogikan secara sederhana menurut saya pribadi para pelaku brand yang selama ini membangun account brand lewat social media sudah setengah badan memanusiakan brand mereka, karena melalui social media secara nggak langsung telah terjadi perbincangan (conversation) diantara brand dengan audiencenya (fans atau followers). Balik ke pembahasan utama, memanusiakan brand lewat social media yang saya maksudkan disini adalah proses “memanusiakan” sepenuhnya kedalam aspek characters dan attitude, sederhananya adalah ketika kita sudah mengenal siapa audience kita, maka kita harus berkaca pada diri kita untuk menanyakan mengenai siapa kita?, apa yang ingin dibangun?, dan bagaimana kita berinteraksi dengan audience kita?, langsung saja monggo dibaca gan.

1.       Who Your Audience = Who We Are
Hal pertama yang dilakukan tentunya adalah mengenal siapa audience kita (fans atau followers) di social media karena point pertama ini menjadi acuan bagi kita dalam melakukan tahap selanjutnya dalam memanusiakan brand kita di social media, dengan kita mengenali siapa karakteristik dari audience kita tentunya kita selaku brand akan menyesuaikan diri dengan audience, bagaimana kita melakukan pendekatan kepada mereka (how we approach). Hal yang paling sederhana contohnya adalah konten yang akan kita share nantinya tentunya harus disesuaikan dengan audience kita sendiri.

2.       Give Your Admin Name
Kalo diperhatikan seringkali kita liat account-account social media brand tidak memiliki nama “inisial”, nah lho penting emang ya? kalo kita pengen bikin account social media kita lebih dekat dengan audience tentunya hal ini perlu diperhatikan. Salah satu lesson learn yang bisa diambil contohnya adalah @BoberCafe yang sudah mengaplikasikannya memunculkan sosok bernama Katy (admin). Fine what the result then? kalo kita perhatikan timeline perbincangan diantara admin Katy dengan followersnya seperti perbincangan diantara individu dengan individu bukan lagi brand dengan individu, singkat kata perbincangan yang terjadi lebih humanis sama seperti kalo kita saling mention sama temen kita di timeline.

3.       Characters = Brand Representative
Dibalik sosok “admin” tentunya ada karakter yang dibangun didalamnya, seperti juga yang dilakukan oleh @BoberCafe yang menanamkan karakter centil, muda, gaul, dan aktif kedalam sosok Katy, yang tentunya karakter tersebut turut merepresentasikan brand Bober itu sendiri didunia maya. Where does it come from? sumbernya balik lagi ke point pertama siapa sih audience kita? nah kalo ternyata audience kita didominasi anak muda yang “gaul” tentunya kita juga menanamkan karakter “gaul” tersebut dalam brand kita, sehingga nggak salah kalo Bober membangun karakter Katy seperti yang sudah disebutkan karena memang audience yang juga target market Bober CafĂ© didominasi anak usia muda. Nah perlu diingat yah bahwa social media itu merupakan salah satu tools untuk membangun atau deliver brand kita kepada audience, dengan kata lain “account social media represent who we are”.

4.       How Do You Call Your Audience
Mungkin diantara kita sudah tidak aneh dengan kata “tweeps”, nggak cuma account brand saja, terkadang teman-teman kita di twitter juga mengeuarkan kata “tweeps” sebagai bentuk sapaan atau pertanyaan kepada semua followersnya. Ada yang salah ya? nggak ada yang salah sih, cuma karena tujuan kita disini adalah untuk memanusiakan brand kita di social media dengan demikian kita harus memiliki nama “panggilan” khusus untuk audience kita. Sebagai contoh nih @YarisID yang memiliki panggilan “groovers” untuk followersnya atau @NasGorMafia yang menggunakan panggilan “bos” untuk para followers dan konsumen setianya. Menurut saya pribadi dengan kita memiliki nama “panggilan” khusus tersebut maka kita sudah berupaya membangun hubungan setingkat lebih dekat dengan fans atau followers, nggak cuma menjadi pembeda dengan yang lain, nama “panggilan” juga bagian dari identitas kita yang akan sangat melekat di benak audience.

5.       Content & Communicate
Aspek konten dan komunikasi merupakan poin penting yang juga perlu diperhatikan dalam memanusiakan brand kita di social media. Oke kita sudah memiliki inisial untuk sosok sang admin, karakter yang kuat, berikut dengan nama panggilan untuk audience kita, nah hal selanjutnya yang perlu dipersiapkan adalah konten yang akan kita share kepada audience. Kuncinya disini adalah pertama konten yang akan kita share tentunya harus sesuai dengan audience kita dalam hal ini apa sih hal yang membuat mereka tertarik untuk dijadikan pebahasan? nah nggak cuma konten promosi melulu yang kita share namun juga kita harus share konten informasi yang menarik bagi mereka dan yang terpenting adalah bisa memancing terjadinya perbincangan, misalkan konten mengenai hobi, cinta, traveling, apapun yang memang menarik bagi audience kita. Kedua adalah komunikasi dalam hal ini adalah cara penyampaian konten kepada audience kita yang tentunya perlu juga disesuaikan dengan karakter dan audience kita, misalkan jika audience kita kalangan anak muda akan lebih mengena jika konten disampaikan dengan bahasa yang ringan dan santai.

6.       Conversation Is King

Kalo menurut saya pribadi mau namanya karakter yang kuat, nama panggilan yang bikin akrab, konten yahud dibarengin dengan penyampaian yang asik kalo tidak ada perbincangan (conversation) sama sekali bisa dibilang upaya kita memanusikana sebuah brand mungkin bisa dibilang gagal, atau bisa juga dibilang berhasil namun “hambar”. Nah dengan demikian point paling penting dan paling sulit adalah membangun perbincangan dengan audience kita sendiri, beberapa upaya yang bisa kita lakukan dalam membangun perbincangan adalah mempersiapkan konten yang menarik bagi audience (foto, video, quotes, tips, news), melontarkan kata-kata pertanyaan atau opini kepada audience, hingga menyelenggarakan sebuah aktifasi (kuis). (dira.illanoor – maret 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar