Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Selasa, 07 Januari 2014

Digital Government di Era 2.0



Kalo ngomongin Digital Government saat ini mungkin bagi sebagian orang bukalah hal yang asing karena saya yakin beberapa diantara kita juga mengikuti perkembangan digital media (internet dan social media) sebagai powerfull media dalam bisnis, branding, hingga social movement. Sebagai contoh sebut saja bagaimana presiden Barack Obama dengan campaign #YesWeCan yang sangat viral di social media berhasil mengantarkan dirinya menjadi Presiden kulit hitam Amerika Serikat pertama, di skala lokal juga seperti kita ketahui @ridwankamil bersama para relawan #BdgJuara berhasil membuktikan sebagai pemimpin yang murni dipilih oleh warga karena sosok, visi, dan misi yang ditawarkan kepada masyarakat untuk kota Bandung tercinta.

Digital Government dalam tulisan kali ini bukan sekedar mengenai aplikasikan Goverment yang “goes online” (website) atau “paperless” (email) saja, namun lebih jauh sesuai dengan judul yang saya angkat Digital Government 2.0 merupakan pandangan pribadi saya mengenai “bagaimana sebuah pemerintahan memanfaatkan media online khususnya social media sebagai media komunikasi baik dalam berinteraksi hingga menyampaikan kebijakan-kebijakan publik”. Sebagai salah satu warga bandung di dunia nyata maupun digital (netizen) tentunya sosok ridwan kamil yang akan saya angkat dalam tulisan kali ini, dalam hal ini bagaimana beliau memaksimalkan social media sebagai media komunikasi dengan warganya. Sebelumnya tulisan ini tidak dimaksudkan untuk diskreditkan seseorang, namun lebih pada pengamatan pribadi saja sebagai digital enthusiast yang menilai fenomena ini bisa menjadi sebuah tulisan yang menarik dan mudah-mudahan bisa menginspirasi. Monggo dibaca gan!

1.       Komunikasi Dua Arah
Salah satu karakteristik social media adalah sifatnya yang dua arah (two ways communication) yang memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung diantara pemilik account social media dengan fans maupun followersnya, mungkin inilah yang menyebabkan social media dinilai lebih “humanis” dibandingkan media-media konvensional lainnya yang sifatnya lebih satu arah (one ways communication). Dengan demikian komunikasi dua arah yang terjalin diantara ridwan kamil dengan followersnya yang mayoritas merupakan warga Bandung melalui jejaring social media facebook maupun twitter menurut saya pribadi merupakan sebuah terobosan dalam merubah stigma mengenai sulitnya menjalin interaksi secara langsung dengan sosok penting di pemerintahan, dengan adanya social media kini warga Bandung bisa “secara langsung” berinteraksi dengan sang walikota terpilih sekedar bertanya, mengutarakan pendapat, menyampaikan komplain, atau apapun itu.

2.       Lebih Dekat Lebih Memiliki
Dengan terjalinnya komunikasi dua arah yang “humanis” tentunya membangun kondisi tidak ada jarak diantara walikota dan warganya, dengan demikian kondisi ini saya nilai dapat membangun rasa saling memiliki karena kedekatan emosional yang dibangun melalui sebuah perbincangan (conversation), walaupun dalam aplikasinya kadang timeline beliau dibanjiri mention-mention yang cukup menggelitik dan mengundang tawa, namun kembali itulah mungkin sisi “humanisnya” warga bandung khususnya anak mudanya yang dinilai kreatif ingin lebih dekat dengan sosok pemimpin yang sudah dipilihnya. Upaya pendekatan “humanis” melalui account social media ini saya nilai tidak hanya diterapkan dalam ranah pribadi sang walikota saja namun juga dalam ranah struktural secara pemerintahan, diantaranya dengan dikembangkannya account-account social media yang merepresentasikan beberapa bidang kerja pemerintahan di kota Bandung, seperti diantaranya adalah @Satpolppbdg, @DISBUDPAR_BDG, @DiskominfoBdg yang dimana kehadiran account tersebut juga menjadikan proses penyampaian informasi dari masyarakat kepada dinas terkait khususnya bisa lebih cepat ditanggapi.

3.       Libatkan Audience (Citizen Journalism & User Generated Content)
Percepatan informasi yang disediakan oleh social media merupakan sisi lain yang juga menarik untuk dibahas, karena seperti kita ketahui bersama social media juga menjadi bagian dari hadirnya citizen journalism dimana masyarakat (netizen) bisa secara aktif menjadi jurnalis menginformasikan sesuatu hal yang terjadi kepada khalayak. @infobdg merupakan sebuah account media informasi yang menunjukan kekuatan citizen journalism dengan melibatkan warga Bandung untuk berbagi informasi kepada mengenai lalu lintas #lalinBDG, event #eventBDG, cuaca #cuacaBDG, hingga informasi-informasi lainnya #infoBDG. Hampir sama dengan @infobdg, account pribadi sang walikota juga seringkali dibanjiri dengan mention-mention dari warganya yang pada dasarnya berisi mengenai konten informasi (update, komplain, laporan, dll) mengenai kondisi kota Bandung, sebagai contoh diantaranya laporan warga mengenai kerusakan jalan hingga papa billboard yang akan roboh di salah satu sudut kota Bandung. Ridwan Kamil juga banyak melibaktan audience dalam beberapa hal lainnya, sebagai contoh beberapa waktu lalu beliau sempat mengadakan sayembara untuk memberi nama kepada Bus sejenis double decker yang akan dijadikan sebagai salah satu icon pariwisata city tour di kota Bandung, dimana sayembara ini mengaja seluruh warga Bandung untuk berkontribusi mengirimkan ide nama bus tersebut dengan iming-iming hadiah gadget, apa yang terjadi? tentunya hal ini mengundang partisipasi masyarakat (netizen) untuk memberikan ide nama baik melalui account social media twitter atau facebook, hingga akhirnya terpilihlan nama BANDROS (Bandung Tour On The Bus) yang dimana diresmikan bersamaan dengan moment perayaan tahun baru 2014.

4.       Viral & Trending Topics
Beberapa waktu lalu (tepatnya hari kamis) saya menemukan bahkan mengcapture dan mention kepada Ridwan Kamil mengenai hastag #KamisInggris yang menjadi trending topic worldwide saat itu, memang hal tersebut tidak dapat membuktikan sepenuhnya bahwa warga Bandung pada hari itu berbahasa inggris, namun di satu sisi menurut saya pribadi hal tersebut bisa menjadi sebuah indikator mengenai bagaimana sebuah kebijakan pemerintah (campaign) yang disampaikan melalui social media ini bisa menjadi viral dimasyarakat (netizen), karena memang pada dasarnya salah satu karakteristik social media adalah sifatnya yang viral dengan demikian hastag (#) campaign bisa dibilang sebagai senjata utama dalam menciptakan viral di social media.

5.       Mendorong Partisipasi Masyarakat
Viral bukan hanya sekedar viral saja, namun jika diperhatikan secara seksama hastag (#) sebuah campaign secara tidak langsung bisa mendorong masyarakat (netizen) untuk aktif turut berpartisipasi melalui berbagai cara (hanya sekedar retweet, mention hingga terbangun perbincangan, merekomendasikan pada rekannya, bahkan lebih jauh mereka terdorong untuk bergerak). Pada dasarnya apa yang ingin saya sampaikan di point ini adalah sebuah campaign tidak hanya bisa menciptakan viral saja, namun lebih jauh bisa menghasilkan conversation bahkan partisipasi dari masyarakat (netizen) itu sendiri. Contoh sederhana adalah program #SejutaBiopori yang digagas bisa mendorong partisipasi masyarakat untuk turut berpartisipasi membuat sumur biopori di lingkungan rumahnya, karena tidak jarang banyak warga yang mention mengirimkan foto diri atau warga dilingkungannya yang sedang membuat sumur biopori (terlepas dari motif pengiriman foto tersebut). Selain itu #ReboNyunda yang digagas beliau dimana disetiap hari rabu warga Bandung dihimbau untuk menggunakan iket dan bahasa sunda tidak hanya menjadi perbincangan saja namun juga bisa mendorong partisipasi masyarakat.


              Nah mungkin itu hanya sedikit pendapat pribadi menanggapi fenomena yang terjadi di social media, mengenai bagaimana perkembangan social media yang pada awal mulanya diperuntukan untuk jaringan pertemanan pribadi yang “berevolusi” berkembang menjadi sebuah media powerfull dan impactfull dalam membangun bisnis (penjualan), brand (community development), personal brand, social movement, news portal (media), campaign, hingga Digital Government 2.0 yang kesemuanya saya nilai terjadi dari perubahan kebiasaan (behavior) masyarakat dengan adanya perkembangan teknologi informasi itu sendiri yang turut merubah fungsi utamanya, menarik bukan? (2014) @justdira