Prolog Dari Penulis

Sebenarnya saya termasuk orang yang jarang nulis, namun diawali dari tugas kantor untuk nulis artikel setiap minggu, melalui blog ini saya hanya ingin sharing sedikit mengenai tulisan-tulisan saya melalui blog ini supaya lebih bermanfaat. Tentunya semoga tulisan ini bisa menjadi insight dan dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca. Mohon maap jika ada dinilai masih ada tulisan yang kurang berkenan, namanya juga masih belajar.

Sabtu, 13 April 2013

Kekuatan “Menakutkan” Sang Mbah Google



          Pengen share ini ada sedikit cerita yang menarik nih kebetulan beberapa hari kemarin disela-sela kuliah mendengarkan ceramah sang dosen yang kebetulan praktisi dan jajaran B.O.D dari sebuah perusahaan telekomunikasi paling besar di Indonesia, saya mendapatkan sedikit insight untuk dibagi. Nah di sela-sela pelajaran mata kuliah beliau sempat sedikit membahas mengenai “Google” yang menurutnya kedepannya bisa menjadi sebuah ancama serius bagi kelangsungan bisnis telekomunikasi di Indonesia, wow se-serius itu kah? hati kecil saya berbicara, setelah dipikir dan obrolan sang dosen saya dengarkan lebih lanjut mungkin melalui tulisan ini saya ingin coba berbagi cerita yang saya dapatkan tersebut dengan beberapa analisa dan data yang coba saya lakukan mengenai kekuatan sang mba Google yang sekiranya menjadi ancaman bagi industri telekomunikasi di Indonesia. Nah kira-kira kekuatan apa saja yang menyebabkan google menjadi “momok” bagi perusahaan telekomunikasi kedepannya? monggo dibaca.

1.       Google Serach Engine = Invisible Income
Banyak yang bilang katanya kalo mau sukses berbisnis di online kuncinya sederhana “semuanya gratisan”? nah loh kalo gratisan terus dari mana kita dapet untung? nah ini yang terjadi pada Google, sebagai sebuah perusahaan teknologi informasi dengan core servicenya “search engine” paling favorit di seluruh dunia banyak orang yang beranggapan bahwa Google memberikan service search engine secara cuma-cuma a.k.a tidak mementingkan profit. Padahal dibalik kekuatan serach engine tersebut “Google memiliki pendapatan 14,4 miliar dolar AS pada akhir kuartal 2012, dimana pendapatan mereka naik $50 Juta dari tahun sebelumnya sebelumnya (sumber http:www.antaranews.com)”. Pertanyaan selanjutnya dari mana si mbah bisa mendapatkan income revenue sebesar itu? jawabannya tentunya melalui jasa Google Advertising (Adword, Display Network, Site Targeted Advertise, Teks, Banner, Rich Media Ads, etc). Nah dari konteks invisible income ini mungkin saya nilai sebagai kekuatan pertama dari Google yang bisa dibilang didukung oleh kekuatan financial yang besar bagi sebuah perusahaan teknnologi informasi.

2.       Akuisisi Youtube
Siapa sih yang nggak kenal youtube? sebuah site yang berjasa mempopulerkan gangnam stylenya si PSY, dan baru-baru ini heboh juga tentang harlem shake. Youtube bisa dibilang termasuk 10 besar situs paling favorit yang paling banyak di akses oleh manusia di bumi ini, malah menempatkannya di posisi ke 2 setelah Google, bahkan untuk sebagian data mengklaim Youtube ke 3 setelah Facebook. Nah nggak aneh nampaknya kalo Google tertarik untuk mengakuisisi situs yang cukup populer tersebut, dan alhasil 9 Oktober 2006 dengan dana $1,65 Miliar Youtube resmi dimiliki oleh Google. Pertanyaan selanjutnya, apa untungnya buat google? menurut saya pribadi “Pertama google kini memiliki jaringan yang lebih luas dengan demikian bisa melakukan integrasi antara Google dengan Youtube (more network more income), Point kedua adalah dari segi portofolio bisnis dong tentunya, kalo sebelumnya hanya service search engine, kini Google punya service entertaiment untuk konsumen, nah mungkin ini yang dimaksud salah satu ancaman yang dimaksud dosen saya, karena setau saya portofolio perusahaan telekomunikasi beliau ada konteks entertaiment”. Bayakngkan kalo yang satu harus bayar berlangganan, nah yang satu ngasih gratisan? pilih mana gan?.

3.       Akusisi Android – Google Nexus
Hampir sama dengan youtube, Android merupakan bisnis yang juga di akuisisi oleh Google, senilai $50 Juta tepatnya 2005 satu tahun sebelum akuisisi youtube. Akuisisi Android yang dinilai David Lawee (vice president of corporat development) belum menghasilkan revenue bagi google terjawab ketika dua tahun dari proses akuisisi menyematkan Android sebagai pilihan favorit berbagai smartphone yang saat ini menjadi trend baru di pasaran konsumen. Bisa dibilang smartphone kini menjadi gaya hidup baru di kalangan konsumen yang semakin melek teknologi, bahkan Android dalam kenyataannya sempat menjadi ancaman juga bagi iOS yang dikembangkan oleh Apple. Nah bersamaan dengan kepemilikan Andorid, baru-baru ini Google merelease PC Tablet dan Smart Phones “Google Nexus” 4, 7, dan 10 inch tentunya dengan platform operating system Android, hal lainnya yang sempat mencuat adalah upaya Google dalam mengakuisisi Motorola untuk memperkuat posisi Android saat melakukan pertempuran dengan Apple. Memiliki PC Tabet & Smart Phone sendiri dan tentunya dengan sistem platform sendiri, tidak mengherankan jika Google semakin mengancam indutri telekomunikasi terlebih kini percepatan teknologi informasi penetrasinya semakin berkembang cepat.

4.       Invasi Telekomunikasi
Nah mungkin ini point yang paling menjadi ketakutan besar bagi industri telekomunikasi di Indonesia, karena si mbah berencana untuk merambah bisnis telekomunikasi. Berdasarkan data yang saya peroleh Goole sedang melakukan uji coba Subscriber Identitf Module (SIM) yang dimiliki oleh Google, yang bentuknya hampir sama dengan SIM kebanyakan yang sudah muncul di pasaran. Rencananya lewat layanan bisnis tersebut Google akan mendirikan Virtual Network Operator (NVMO) dimana perangkat Android bisa menggnakan SIM ini. Bisa dibayangkan bagaimana impact kehadiran Google di indutri telekomunikasi jika proyek ini benar-benar sukses diadaptasi? well saya kira hanya waktu yang bisa menjawabnya.
                
            Nah itu tadi mungkin sedikit cerita dari saya mengenai kekuatan menakutkan dari sang mbah google, dikerucutkan menjadi 4 point penting yakni invicible income dari serach engine yang menyebabkan Google memiliki kekuatan financial untuk akusisi beberapa bisnis besar, akuisisi youtube, android, dan rencana invasi ke binis telekomunikasi. Tentunya diluar 4 point yang sudah saya jelaskan masih banyak faktor yang turut berpengaruh bagi Google, seperti salah satu diantaranya bisnis TV satelit atau jaringan internet yang menjadi bidikan si mbah sebagai sebuah kekuatan besar yang menakutkan bagi pelaku bisnis (competitor) yang semakin terancam, tentunya kekuatan yang menyenangkan bagi konsumen yang semakin dimanjakan oleh fitur-fitur yang dimiliki oleh Google mulai dari service, platform, kontent, hardware, etc. (dira.illanoor – 2013)

Bisnis Adu “Fungsi” v.s Bisnis Adu “Kecerdasan”



sumber gambar : 

             Gaya yah judulnya, sampai-sampai kalo baca judulnya langsung mikir emang ada yah bisnis yang adu fungsi lawan adu kecerdasan? buat para pelaku bisnis kira-kira kalian sedang adu “fungsi” atau adu “kecerdasan”? oke sebenarnya adu “fungsi” dan adu “kecerdasan” hanya sebuah perumpamaan saja, bahwa dalam realita bisnis di lapangan banyak pelaku bisnis yang lebih cenderung sibuk beradu “fungsi”, namun juga tidak sedikir para pelaku bisnis yang melakukan adu “kecerdasan”. Nah melalui tulisan ini sebenarnya saya hanya sedikit berbagi saja mengenai  bisnis yang mengandalkan adu “fungsi” dengan bisnis yang mengandalkan adu “kecerdasan”, tentunya masing-masing memiliki pembahasan yang berbeda sehingga menarik untuk dibahas.

1.       Adu Fungsi = Bisnis Komoditi
Oke pertama adalah adu “fungsi”, yang dimaksud dengan bisnis adu “fungsi” sebenarnya sangat sederhana dalam hal ini para pelaku bisnis hanya bersaing dengan fokus menjual fungsi utama dari produk yang dijualnya tersebut mau itu barang ataupun jasa. Misalkan sebuah produk donat yang dijual dibeli oleh seorang konsumen untuk “mengenyangkan” perutnya yang lapar atau konsumen tersebut membelinya karena donat tersebut “enak”, sehingga tidak ada kebutuhan lainnya yang dicari oleh konsumen tersebut.

Persoalan akan berbeda ketika seorang konsumen membeli produk donat J.Co di sebuah mall, nah yang dibeli oleh konsumen tersebut bukan hanya sekedar fungsi donatnya yang “mengenyangkan”atau “enak”, namun dibalik semua itu seseorang membelinya karena serangkaian nilai yang ada pada merk  J.Co itu sendiri. Seorang konsumen membeli donut J.Co mungkin karena emotional experience yang ditawarkan, mungkin karena varian rasa donatnya, bisa jadi karena bundling donat dengan capucino, bisa karena pelayananan dari sang pelayannya yang sigap dan ramah, bisa jadi karena akses wifi gratis, any many more, namun intinya adalah selain fungsi terdapat value lainnya yang akan menjadi pertimbangan konsumen tersebut dalam membeli produk kita.

Balik lagi ke adu “fungsi”, kalo produk bisnis kita hanya beradu “fungsi” saja maka akan menjadikan produk kita sebagai produk “komoditas”, kenapa? karena secara tidak langsung persaingan adu “fungsi” tersebut memaksa kita untuk menjadi sama dengan produk lainnya atau bahkan kebanyakan, menjadikan produk kita bisa saja atau sama dengan yang lain. Nah kalo sudah begini apa yang akan terjadi? pertama tentunya produk kita akan sulit bersaing dengan produk serupa, kedua persaingan akan bisnis menjadi fokus pada persaingan harga dalam hal ini produk komoditas kemungkinan akan bersaing di masalah harga, siapa yang paling murah itu yang kemungkinan dipilih oleh konsumen, wong rasa dan fungsinya sama, so ngapain saya harus bayar lebih mahal, setuju dan bisa dimengerti kan?
  
2.       Adu Kecerdasan = Bisnis Value
Sekarang kita akan masuk kepembahasan berikutnya mengenai bisnis yang mengandalkan adu kecerdasan, dan sebelum dimulai tentunya akan muncul sebuah pertanyaan besar mengenai kenapa saya harus bisnis mengandalkan “adu kecerdasan”? saya akan coba jawab yah, he4 hal pertama yang paling mendasari pertanyaan tersebut adalah karena :

ü  Konsumen yang semakin pintar memilih, kini konsumen nggak cuma cari fungsi tapi juga cari value apa yang bisa kita kasih sama mereka, karena mereka bakalan rela spending uang lebih untuk membeli nilai value yang kita jual kok.
ü  Pesaing bisnis nggak cuma satu, dua, atau tiga namun puluhan bahkan ratusan, dengan demikian untuk bisa bersaing dengan para pesaing untuk mendapatkan hati konsumen ya kita harus bersaing menggunakan kecerdasan. “it’s to many noise between you and your costumer, so you have to use your intellegent to reach your costumer”
ü  Kecerdasan yang kita kemas dalam serangkaian value, akan menjadi pembeda diantara produk kita dengan produk lainnya, yang dimana value tersebut bisa menjadikan produk atau bisnis kita superior bahkan bisa menjadi market leader.

Nah itu tadi mengenai 3 alasan utama yang mendasari mengapa kita harus bisnis adu “kecerdasan”, selanjutnya bagaimana cara kita beradu kecerdasan? tentunya akan ada banyak cara yang tidak mungkin saya jelaskan melalui tulisan ini satu persatu karena bisa-bisa abisin satu buku lagi, he4. Nah intinya kan tadi sudah sama-sama kita bahas kuncinya adalah value, how to create? sederhananya kita mengenal teori 4P atau 6P, product, price, place, promotion, people, and process nah melalui 6 faktor itulah kita bisa mecreate kecerdasan dalam bentuk value.

Sebagai contoh keripik Maicih yang menciptakan tingkat level kepedasan produknya #product, dan metode penjualan reseller ala jenderal #place  dan promo lewat social media #promotion yang berhasil menjadikan kudapan keripik singkong pedas menjadi berbeda dari keripik singkong biasa. Ada juga yang namanya Bandung Taxi Bike, sensasi naik ojek se-esklusif taksi yang mengemas armada Vespa LX yang di branding total #product, memberikan service tisu basah, permen, jas hujan khusus konsumen #process, dan menyediakan supir yang professional dan handal #people. Intinya banyak hal yang bisa kita kembangkan dari ke 6 faktor tersebut sehingga bisa menjadi value lebih untuk bersaing secara cerdas, disini penting juga bagi kita untuk mengetahui nilai uniqeness dari bisnis atau produk yang akan kita jual. (dira.illanoor – 2013)

Riset Milyaran v.s Riset “Gratisan”




                  Kenapa sih riset selalu menjadi perbincangan semua orang di jagat bisnis? heran emang si riset itu hebat banget yah sampe-sampe selalu dijadikan senjata pamungkas untuk menjadi kunci kemenangan dari persaingan? siapa ya kira-kira yang pertamakali nemuin si riset? He4, lebay yah. Nah balik ngomongin riset nih memang benar riset bisa dibilang segalanya dalam sebuah bisnis atau apapun itu, karena melalui riset kita bisa mengumpulkan data dan fakta di lapangan untuk selanjutnya di olah sebagai bagan pertimbangan utama di setiap proses pengambilan keputusan.

          Ngomongin riset pastinya bukan perkara yang mudah dan murah, untuk sebuah brand atau perusahaan besar riset merupakan salah satu aktifitas yang menjadi keharusan walaupun menghabisakan biaya yang tidak sedikit tentunya. Namun demi untuk sekumpulan data aktual dan akurat di lapangan yang memiliki dampak besar terhadap sebuah brand atau perusahaan, biaya besar nampaknya tidak menjadi permasalahan utama.

                Dalam tulisan sebelumnya saya pernah membahas mengenai riset “Spionase Konvensional vs 3.0”  mengenai bagaimana memaksimalkan riset melalui aktifitas offline dan online, nah terinspirasi dari sebuah buku yang saya baca saya ingin sedikit membahas mengenai riset dalam perspektif bisinis yang nggak melulu ngomongin duit, proses yang ribet, namun ternyata bisa dilakukan dengan upaya yang sederhana bahkan “gratisan”, nah biar nggak salah persepsi gratisan disini bukan berarti nggak ngeluarin duit sama sekali yah, memang benar untuk beberapa kondisi mungkin bisa murni gratisan namun untuk beberapa kondisi lainnya “gratisan” disini diartikan sebagai sebuah kondisi yang membutuhkan biaya minim alias murah banget.

1.       Riset Nggak Selalu Ribet (make it simple)
Banyak orang yang sudah males duluan kalo dihadapkan sama yang namanya riset karena stigma yang melekat riset sudah pasti berurusan dengan yang namanya sekumpulan angka, memang bener sih kadang aktifitas riset menghasilkan sekumpulan angka yang selanjutnya kita olah menjadi data, cuma riset nggak memulu selalu ribet apa lagi berhubungan dengan angka koq, bahkan bagi pelaku bisnis riset bisa dilakukan dengan konsep D.I.Y (do it yourself). Misalkan sebut saja kita mau bisnis kuliner (mau buka café resto), apa riset yang bisa kita lakukan misalkan kita cukup datang ke sebuah café atau resto yang dinilai bisa dijadikan contoh sukses, disana tentunya selain mencoba beberapa menu kita bisa sekalian melakukan aktifitas riset (misalkan : cek daftar menu dan harga, observasi environment disana, ngobrol sama pelayan, ngobrol sama kasir, bahkan ngobrol sama konsumen yang kebetulan ada di sana). Make it simple disini diringkas kedalam 4 aspek yang mudah untuk diaplikasikan, yakni lihat, dengar, catat, dan bandingkan.

2.       Riset Nggak Memulu Duit  (make it cheap)
Wah kalo mau riset kayaknya butuh biaya yang besar nih, belom buat orang yang ngerisetnya, foto copy form riset, belum untuk ngolahnya nanti, itulah stigma yang pasti muncul pertamakali. Padahal kalo ngomongin riset nggak melulu soal duit koq, dengan konsep do it your self tadi kita bisa melakukan riset ini sendiri, dan yang terpenting don’t make it looks hard.  Kalo pun memang biaya menjadi kendala, yang gampangnya kita manfaatkan semua potensi yang kita miliki, nah apalagi dengan adanya online yang memungkinkan adanya konsep riset murah, sebagai contoh form riset tadi jadi kendala tinggal pake google docs kita buat serangkaian pertanyaan, lalu linknya di share deh di twitter ke temen-temen untuk isi atau biar menarik modal dikit misal yang sudah partisipasi namanya akan diundi untuk dapetin hadiah t-shirt. Intinya sih selalu ada jalan buat kita yang mau berusaha, kalo memang terkendala satu hal mungkin kita bisa coba ganti persepsi kita dan mencoba hal lain yang belum terpikirkan sebelumnya.

3.       Riset Milyaran v.s Riset “Gratisan”
Nah apa yang dimaksud dengan riset milyaran v.s gratisan? oke berdasarkan buku yang saya baca “istilah riset milyaran” itu saya coba terjemahkan kedalam serangkaian aktfitas riset pelaku bisnis untuk bersaing dengan kompetitor yang tentunya membutuhkan alokasi financial untuk menjalankannya. Untuk bersaing ternyata nggak memerlukan serangkaian riset yang membutuhkan waktu dan biaya yang besar koq, makana melalui “riset gratisan” ini konteks riset diibaratkan A.T.M (amati tiru dan modifikasi), untuk bisa bersaing dalam bisnis terkadang kita juga harus melakukan hal tersebut, mulai dari mengamati apa yang dilakukan oleh pesaing, meniru apa yang dilakukan oleh pesaing namun tentunya kita tidak hanya meniru saja namun juga memodifikasinya menjadi lebih baik dari apa yang dilakukan pesaing. (dira.illanoor – 2013)

Gagal Bukan Akhir Segalanya




                 Ngomongin bisnis, kalo dianalogikan sebagai sebuah jalan, dalam perjalanannya sudah pasti akan banyak menemukan belokan yang tajam, turunan yang tajam, sampai dengan batu kerikil. Yes, it’s business, hampir sama dengan kehidupan seseorang perjalanan bisnis pastinya akan menemukan banyak rintangan dan halangan karenanya bisnis selalu bergerak dinamis seiring dengan perkembangan zaman, perubahan perilaku konsumen, dan persaingan diantara pelaku bisnis lainnya.

                Banyak yang memutuskan turun untuk berbisnis, namun sayangnya harus kandas ditengah jalan dikarenakan mereka belum siap sepenuhnya khususnya secara mental, kalo kita cermati sosok-sosok pengusaha sukses di Indonesia rata-rata diantaranya pernah mengalami atau memulainya dari kegagalan kok, namun bagaimana dari kegagalan tersebut mereka berhasil bangkit menjadi sukses. Saya memang untuk saat ini masih belum memiliki pengalaman sebagai pebisnis, namun berdasarkan pengalaman saya ngobrol dengan tema-teman saya yang kebetulan sudah lama berbisnis, dan sedikit referensi dari bacaan mengenai cerita sukses pelaku bisnis, disitu saya menyimpulkan bahwa gagal dalam sebuah bisnis bukanlah akhir dari segalanya namun merupakan permulaan dari kisah sukses kita, nah apa saja yang harus kita tahu dan persiapkan untuk bisa sukses dari sebuah kegagalan?

1.       Don’t Panic
Panik merupakan hal pertama yang kemungkinan akan dirasakan oleh seorang pebinsis ketika menemui sebuah kondisi ketika rencana yang dipersiapkan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan terlebih jika pelaku bisnis tersebut masih startup. Sebenarnya ketika kita memutuskan untuk menjalankan sebuah bisnis sudah seharusnya kita harus siap dengan segala bentuk resiko yang akan dihadapi, itu sebabnya kenapa seseorang yang memutuskan untuk berbisnis harus memikirkan segala bentuk kemungkinan yang akan dihadapi (positif maupun negatif) sehingga sudah siap dengan segala bentuk antisipasi ketika harus menghadapi kondisi-kondisi yang diprediksi akan dihadapi.

2.       Evaluasi
Hal kedua yang harus dilakukan ketika kita menghadapi sebuah kegagalan dalam menjalankan bisnis adalah evaluasi, disini kita melakukan evaluasi secara menyeluruh mengenai penyebab dari kegagalan tersebut dari segala sudut pandang tentunya. Selain itu aspek positif dari keberhasilan bisnis kita pun perlu untuk dievaluasi, tujuannya untuk dijadikan sebagai acuan dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang akan dihadapi kedepannya atau bahkan dijadikan sebagai acuan bagi kita ketika membangun kembali sebuah bisnis untuk tidak memasuki lubang yang sama. Perlu di ingat bahwa untuk melakukan sebuah evaluasi kerja kita tidak harus menunggu sampai kita menghadapi kondisi-kondisi tertentu, namun ada baiknya jika evaluasi dilakukan secara berkala sebagai langkah antisipasi dini, jika kita menemukan sesuatu hal yang salah segera perbaiki sebelum menjadi besar dan merambat ke aspek lainnya.

3.       Plan B
Always prepared Plan B, banyak yang bilang dalam setiap langkah atau keputusan yang kita buat perlu dipersiapkan backup plan untuk dijadikan solusi instant jika rencana awal yang kita siapkan berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Setelah kita mengetahui segala kemungkinan yang mungkin akan dihadapi, selanjutnya adalah kita membuat rencana alternatif jika rencana yang kita jalankan sebut saja tidak sesuai dengan yang kita inginkan, semakin banyak rencana cadangan akan semakin baik karena kita sudah siap dengan berbagai kondisi yang mungkin akan terjadi tentunya dengan beberapa alternatif solusi yang sudah kita perkirakan.

4.       Fail = Good Lesson
Mungkin ini hanya salah satu sikap yang harus juga ditanamkan dalam diri seorang pelaku bisnis “sometimes fail is a good lesson”, kegagalan menjadi sebuah pelajaran yang berharga? setuju? buktinya memang begitu koq, saya sempat membaca sebuah buku mengenai sosok-sosok entrepreneur yang suskes di usia muda, namun bukan kisah sukses mereka menjadi pengusaha yang disoroti namun mengenai bagaimanan proses mereka bisa menjadi sukses yang harus melalui berbagai liku-liku yang sangat berkelit, bahkan rata-rata mereka yang sukses harus melalui 3 – 5 kali kegagalan dalam bisnis hingga pada akhirnya sukses. Pelajaran yang bisa saya ambil disini adalah ketika kegagalan menjadi pelajaran bagi kita dalam membentuk mental baja dan bangkit tentunya dengan segudang informasi untuk mencegah kegagalan tersebut kembali kita alami. Nah bukan berarti orang sukses harus gagal dulu yah, intinya mungkin banyak pelaku bisnis di awal kemunculannya mengalami yang namanya kegagalan, namun bagaimana kegagalan tersebut dijadikan sebagai pegangan untuk tidak terjatuh kedalam lubang yang sama dan sebuah motivasi tentunya bahwa dari kegagalan tersebut kita pasti akan sukses, seperti sebuah perumpamaan kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tinggal balik lagi ke kita mau ditunda berapa lama? He4.(dira.illanoor – 2013)

Nikah Yuk




sumber gambar : www.ayonikah.com

           Media online memang selalu memberikan cerita menarik nampaknya, karena baru-baru ini saya nggak sengaja menemukan sebuah portal yang tidak biasanya bagi saya, jujur saja baru pertamakali saya menemukan portal online seperti ini, adalah www.ayonikah.com portal yang saya maksudkan tersebut. Begitu pertamakali saya buka portal website tersebut perasaan campur aduk ngumpul deh mulai dari amaze “ternyata ada loh ya portal ginian” ampe bengong “liat banyaknya member yang terdaftar”. Keberadaan portal ini nampaknya perlu juga untuk diapresiasi karena bisa muncul dibalik ke-tabuan masyarakat kita khususnya mengenai hal-hal yang sifatnya tidak biasa.

                Ayonikah.com ini dinilai sebagai sebuah “perkawinan” antara solusi dan bisnis opportunity melalui media online, kenapa saya bilang demikian? pertama karena core business yang ditawarkan oleh ayonikah.com merupakan jasa dalam bentuk solusi pencarian pendamping hidup secara online, nah yang dari solusi tersebut berhasil di konversi menjadi peluang bisnis yang mungkin bagi sebagian orang nggak akan kepikiran sama sekali ngehasilin duit dari hal ginian, boro-boro kepikiran jadi duit kepikiran mengenai konsep bisnisnya aja mungkin nggak pernah terlintas. Yah namanya juga media online apapu bisa jadi bisnis he4, nah dilandasi akan hal tersebut melalui tulisan ini saya ingin membahas sedikit mengenai fenomena menarik ini, cekidot.

1.       Menawarkan Solusi
Kalo diperbolehkan menebak mungkin lahirnya ayonikah.com ini dilandasi dari keinginan sang founder dalam membantu memberikan sebuah solusi bagi seseorang yang sedang dalam proses pencarian pendamping hidup kalo yah, karena kalo ngomongin masalah percintaan mungkin bagi sebagian orang hal tersebut menjadi sebuah dilema atau permasalahan yang sulit untuk diungkapkan karena beberapa hal yang sifatnya personal, tak jarang loh orang kesulitan menemukan pendamping hidup yang sesuai. Nah kondisi tersebut mungkin dilihat sebagai sebuah peluang bagi ayonikah.com, karena dengan dengan adanya portal ini sebut saja seseorang yang kesulitan mencari pendamping hidup yang paling sesuai seolah diberikan sebuah solusi dalam mencari jodoh paling sesuai untuk diajak nikah, karena disini mereka bisa mencari sosok pendamping hidup yang dinilai cocok melalui berberapa cara diantaranya lewat foto dan profilnya atau berinteraksi via message & live chat.

2.       Fitur Segudang
Nggak cuma biodata member saja yang disediakan oleh ayonikah.com dimana satu member bisa mencari calon pendamping hidup paling sesuai dengan sistem filter usia, status (lajang, perawan, duda, janda), pekerjaan, dll. Namun member juga dimanjakan dengan berbagai fitur yang tidak kalah menarik dari jejaring social media populer saat ini, member ayonikah.com bisa menggunakan berbagai fitur menarik seperti kirim pesan, kirim hadiah virtual, live chat, webcam, blog, forum, kirim komentar, hot list.


3.       Aktivasi
Nggak Cuma fitur segudang yang diperhatikan oleh ayonikah.com, namun juga program C.R.M costumer relationship management dijalankan sedemikian rupa melalui berbagai program aktifasi bagi para member, mulai dari aktifasi online seperti promo paket bulan madu bagi member yang berhasil menemukan jodoh di ayonikah.com selama periode tertentu, undian berhadian pc tablet, hingga terlibat dalam aktifasi offline seperti acara gathering khusus member (malam keakraban) yang diselenggarakan oleh ayonikah.com.

4.       Solusi Yang Menjadi Bisnis
Solusi yang menjadi bisnis mungkin inilah ungkapan yang paling sesuai bagi ayonikah.com, selain menawarkan solusi cari pasangan hidup yang paling sesuai saya nilai hal ini juga menjadi sebuah peluang bisnis (online) yang cukup menarik untuk dibahas. Salah satunya untuk member yang sudah mendaftar harus membayar biaya aktifasi sebesar Rp. 200.000,- untuk periode 3 tahun sampai mendapatkan jodoh yang di idamkan, nah penawaran menarik kan? lalu apa yang bisa didapatkan member melalui biaya aktifasi (istilah anggota Aktiv) tersebut? banyak tentunya, mulai dari fitur berkirim pesan, kirim hadiah virtual, live chat, webcam, blog, forum, hingga informasi mengenai jadwal acara dalam waktu dekat. Portal ayonikah.com ini diikuti oleh ribuan member aktif didalamnya, jadi bisa dibayangkan berapa potensi yang dihasilkan saat dikonversi menjadi rupiah? (dira.illanoor – 2013)

3 Pilihan Dalam Bisnis




                Ada yang sudah bosan menjadi karyawan? atau ada yang memiliki keinginan berbisnis? nah sedikit ngobrolin bisnis nih, terkadang keinginan berbisnis seseorang terhambat oleh harus terhambat oleh barrier yang ada pada dirinya sendiri, biasanya ketakutan akan gagal karena tidak memiliki pengalaman atau terjebak dalam tataran konsep bisnis, yang padahal initi dari bisnis itu sendiri adalah action. Kenapa? karena kalo belom di mulai mana kita bisa tahu bisnis tersebut akan berhasil atau tidak, bagaimana kita bisa tahu konsep yang kita buat itu berhasil atau tidak, setuju? balik ngobrolin bisnis sedikit sharring walaupun saya pribadi belum memiliki pengalaman di bisnis, he4 yang saya tahu intinya bisnis itu memiliki 3 pilihan, yang dimana masing-masing pilihan tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, nah apa saja pilihan itu? monggo dibaca semoga bisa memebrikan sedikit inspirasi.

1.       Pilihan 1# Follow The Trend
Nah untuk pilihan pertama ini saya nilai lebih cocok untuk pemula yang sama sekali belum memiliki pengalaman dalam berbisnis namun memiliki keinginan untuk mulai berbisnis. Pilihan pertama adalah “follow the trend” atau dalam hal ini adalah kita mengikuti trend pasar yang baru saja terbentuk atau sudah lama tebentuk, misalkan di awal kemunculan keripik singkong pedas maicih, tidak lama dari momentum kesuksesannya banyak bermunculan “follower” dengan berbagai macam merk pelaku bisnis serupa yang memanfaatkan trend yang tengah di bangun pasar saat itu. Beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan untuk pilihan ini adalah ketika sebuah bisnis menjadi sudah trend memang kecenderungan konsumen untuk menjadi bagian dari trend tersebut sangat tinggi (membeli, mencoba, membicarakan), namun ketika sebuah produk menjadi trend dan cenderung sama maka persaingan hanya berfokus pada persaingan harga karena value dari sebuah produk tersebut tidak ada membuatnya menjadi komoditas biasa yang diperjual belikan, selain itu juga sebuah trend ketika sudah tidak menjadi trend akan menjadi masalah untuk kita (kecenderungan bisnis tidak bertahan lama tinggi karena ditinggalakan konsumen).

2.       Pilihan 2# A.T.M
Sedikit advance dari pilihan pertama pilihan kedua fokus pada konsep A.T.M (amati, tiru, modifikasi), nah sedikit berbeda dengan pilihan pertama pilihan kedua ini setidaknya ada effort dalam memikirkan bagaimana kita memodifikasi sebuah konsep bisnis yang sudah ada supaya memiliki value lebih (competitive advantage) dibandingkan produk serupa. Sebagai contoh misalkan kita akan berjualan bubur ayam dan untuk membedakan dengan penjual bubur ayam kebanyakan kita melakukan modifikasi, sebut saja misalkan ketika tukang bubur kebanyakan hanya menyajikan bubur dengan potongan ayam, daun seledri, merica, kecap, sambal, dan kerupuk, maka kita memodifikasinya dengan extra tambahan telur, ati ampela, sate usus, atau menambahkan kuah kaldu sapi, dengan demikian konteks modifikasi disini adalah bagaimana kita menambahkan nilai lebih untuk membedakan produk kita dengan produk kebanyakan.

3.       Pilihan 3# New Inovation
Pilihan ketiga ini lebih expert tentunya dibandingkan dua pilihan sebelumnya namun pilihan ini bisa menjadikan jaminan bagi kita untuk menjadi market leader jika bisnis yang dijalankan sukses dikembangkan, dalam hal ini adalah kita melakukan sebuah inovasi dengan menghasilkan sebuah produk atau bisnis yang benar-benar baru atau belum pernah ada yang melakukannya sebelumnya. Ketika berbicara sebuah invoasi sebenarnya bukan berarti kita harus mengcreate sesuatu hal yang oustanding dan benar-benar baru, namun juga kita bisa mengembangkan dari sebuah konsep yang sudah ada. Nah gampangnya kenapa ide keripik singkong maicih menjadi sebuah ide yang briliant? padahal seperti kita ketahui yang jualan keripik singkong pedas nampaknya sudah ada sejak dulu bahkan sebelum ada ma icih? lalu apa invoasi yang dibuatnya? tentunya dengan mengemasnya kedalam balutan merk ma icih, melakukan inovasi dari variant produk dengan menghadirkan 10 level tingkat kepedasan, jualan lewat twitter dan jaringan reseller yang diberi nama ma icih.

                Nah menurut saya pribadi ma icih bisa kita dijadikan sebagai sebuah pembelajaran contoh bisnis yang mengadaptasi 3 proses yang sudah dijelaskan, pertama dia mengikuti trend yang sudah lama ada yakni jualan keripik singkong pedas yang memang sudah lama ada dan konsumen yang membelinya juga sudah terbangun sebut saja yang “hobi ngemil” atau sekedar untuk “oleh-oleh”, lalu dengan pengamatan seksama dan proses modifikasi yang ciamik keripik singkong tersebut dikemas sedemikian rupa dengan merk ma icih dan pada akhirnya produk tersebut bisa menjadi leader di kelasnya, walaupun memang saat ini harus bersaing dengan banyak merk yang menjual produk dan konsep serupa. (dira.illanoor – 2013)