Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Rabu, 12 Juni 2013

DIGITAL MARKETING, WHAT CHANGES?

             


              Ngomongin social media atau internet kayaknya nggak lepas dengan yang namanya Era Digital Marketing saat ini, karena kalo ngomongin aktifitas marketing bisnis apapun itu nggak lepas dengan yang namanya versi digitalnya entah itu aktif di social media, aktif di forum, online storenya, atau apapun itu, bahkan beberapa diantaranya saat ini terintegrasi juga dengan offline.

                Nah berdasarkan judul tulisan kali ini, Digital Marketing, Whats Changes, melalui tulisan ini saya pengen bahas sedikit saja mengenai apa saja sih yang berubah dengan hadirnya Digital Marketing ini tentunya masih berlandaskan pada konteks pemasaran (marketing). Semoga tulisn ini bisa memberikan sedikit infromasi atau insight baru khususnya bagi para pelaku marketing yang membaca, monggo di baca gan.

1.       Netizen Number
Oke point pertama yang menjadi highlight adalah mengenai number of netizen yang saat ini sudah mencapai angka 60 juta internet user, artinya seperempat penduduk Indonesia (240 juta) sudah terkoneksi dengan yang namanya Internet, mau itu untuk bisnis, interaksi sosial, join forum, sampai akses pencarian informasi, dan diperkirakan dengan penetrasi teknologi informasi dan infrastruktur pendukung juga dengan karakteristik behaviour konsumen Indonesia yang berubah akan semakin meningkatkan angkan orang-orang yang terhubung dalam dunia maya (netizen).

2.       Netizen Behaviour
Highlight kedua mengenai what changes in Digital Marketing adalah karakteristik si konsumennya sendiri yang notabene segala sesuatunya kini serba instan dan praktis (perangkat gadget dan akses internet dimanfaatkan untuk berbelanja), love to share (ingin eksis, ada informasi baru selalu di share kepada yang lain), and care (ingin dilibatkan, ada sesuatu hal yang dinilai sedang menjadi trend mereka nggak mau sampai ketinggalan).

3.       Digital Marketing = Offline Marketing
Banyak yang berfikiran kalo Digital Marketing itu sangat kompleks, canggih, futuristik, dan lain sebagainya? Nah itu anggapan yang salah. Sebenarnya pada dasarnya Digital Marketing itu sama kok dengan aktifitas marketing konvensional, lalu apa yang membedakan? adalah medianya itu sendiri, dengan demikian kita harus menyesuaikan konten materi yang akan disampaikan, dan bagaimana cara menyampaikannya, karena balik ke pembahasan sebelumnya konsumen juga perilakunya berubah jadi kawinkan perubahan perilaku konsumen netizen tadi dengan online media channel (website, social media, email, etc).

4.       Digital Means Goes Mobile
Pada saat mengikuti salah satu seminar, salah seorang narasumber yang cukup berpengalaman di bidang Digital bercerita bahwa jika kita mau masuk Digital Marketing Era means Our Brand or Product have to Mobile. Mungkin saya coba terjemahkan kedalam konteks bahwa saat ini segala sesuatu yang berbau digital semakin banyak di akses Mobile, tentunya hal ini juga bersinggungan dengan perkembangan dan penetrasi mobile atau smartphone di Indonesia yang semakin menggila, dan hal ini merubah perilaku konsumen Indonesia yang bentar-bentar mobile (cek gadget yang dimiliki). Nah saya juga pernah nulis tentang nggak mobile version, konsumen pergi? mungkin itu salah satu contoh kalo bisnis kita harus mobile friendly, jadi yang punya website harus punya versi mobilenya. Selain mobile version juga ada yang namanya Apps, kalo kini smartphone dengan Appsnya semakin merajai bahkan berhasi menggoyang keberadaan Blackberry, maka para pelaku pasar harus jeli memaksimalkannya dengan mengembangkan mobile Apps.

5.       AIDSAS

Digital Marketing juga secara tidak langsung melahirkan sebuah teori baru bernama AIDSAS hasil pengembangan dari teori sebelumnya AIDA, apa itu? singkatnya sih proses keputusan pembelian seorang konsumen nggak berhenti di konsumen itu sendiri namun juga di sampaikan kepada orang lain setelah sebelumnya dia mencari informasi terkait produk yang dicari, jadi ketika seorang konsumen mulai teralihkan oleh sebuah produk (attention), lalu muncul ketertarikan (interest), dan muncul keinginan dalam dirinya untuk membeli (desire), nah sebelum action konsumen kini akan search (mencari informasi terkait produk tersebut, how? Ya online dong),  setelah mendapatkan informasi akhirnya konsumen memutuskan membeli (action), nah kalo mereka puas atau bahkan kecewa akan muncul kecenderungan untuk share (berbagi informasi mengenai experience yang dirasakan melalui media online khususnya social media). (dira.illanoor – 2013)