Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Jumat, 03 Mei 2013

“Kicauan” Sang RI - 1


sumber gambar : screen capture twitter @SBYudhoyono

                “Halo Indonesia. saya bergabung ke dunia twitter untuk ikut berbagi sapa, pandangan, dan inspirasi. Salam kenal. *SBY*”, ada yang familiar dengan tweet tersebut? yup jagat social media (twitter) di Indonesia baru-baru ini digemparkan dengan fenomena orang no 1 di Indonesia (SBY) yang muncul dengan account twitternya @SBYudhoyono, account yang di release pertamakali pada 13 April 2013 ini kini sudah diikuti oleh hampir 700K followers sebuah pencapaian yang fantastis tentunya.

                Pro & Kontra mengenai fenomena ini sudah pasti ada, karena pada dasarnya segala sesuatu bagaikan dua sisi mata uang, sehingga fenomena ini bisa menimbulkan pro dan kontra bagi sebagian orang. Nah Khusus bagi para penggiat social media (twitter), fenomena ini mungkin akan memunculkan sebuah pertanyaan besar mengenai alasan utama dibalik adanya account twitter resmi milik RI-1 ini, apakah hanya ingin menjadi bagian dari uforia social media di Indonesia, atau memang ingin lebih dekat dengan warganya melalui direct interaction melalui social media.

                Nah lantas apa yang melandasi munculnya tulisan ini? mungkin sebagai salah satu pelaku social media (twitter), saya ingin berbagi sedikit pendapat mengenai penilaian pribadi khususnya dalam menanggapi fenomena ini dari konteks dua sisi mata uang, karena dibalik sebuah keputusan tentunya sebuah tujuan yang dilandasi oleh sebuah alasan yang kuat, dan dari sebuah keputusan tentunya sudah dipertimbangkan aspek pro dan kontra yang akan dihadapi, langsung saja moggo dibaca saja.

1.       Numbers Of Netizen
Semuanya dimulai dari angka dan angka, iya dong karena angka merupakan data faktual yang bisa dijadikan sebagai acuan. Berdasarkan data yang saya peroleh jumlah penduduk di Indonesia ini mencapai angka kurang lebih 240 juta penduduk, dimana sekitar 60 juta diantaranya (25%) merupakan netizen yang mayoritas di dominasi oleh usia-usia produktif, sedangkan untuk twitter dari 60 juta netizen 50% (30 juta diantaranya merupakan twitter user). Sehingga tidaklah mengeherankan jika social media (twitter) sangat menjanjikan tidak hanya untuk aktifitas public campaign saja namun juga bagi pelaku bisnis (startup business), branding, hingga public relations activity, karena melalui social media (twitter) kita bisa menjangkau 12,5% dari total penduduk di Indonesia dengan cost dan effort yang tentunya jauh lebih bersahabat.

2.       When Vertical Become Horizontal
Digital Age baik internet maupun social media secara tidak langsung menghasilkan sebuah pola komunikasi baru dalam beberapa aspek kehidupan kita, beberapa diantaranya dalam aspek business, information, public relation activity, advertising, branding, etc. Ada yang menyebutkan bahwa kehadiran online media dan social media ini kini telah merubah pola komunikasi dari vertical menjadi horizontal (vertical become horizontal), apa maksudnya? sederhananya kini konsumen atau publik nggak bisa terus disuapin oleh informasi yang sifatnya searah (one ways), karena kini mereka sadar akan pentingnya inspirasi, apresiasi, dan interaksi (two ways) dan kebutuhan mereka mengenai point tersebut disediakan (provide) oleh media online dan social media, nah makanya nggak mulai dari bisnis, aktifitas branding, hingga kampanye pejabat negara saat ini cukup aktif menggeliat di dunia maya (online dan social media).
   
3.       Online Public Relation
Kalo ngomongin aktifitas Public Relations output yang ingin dihasilkan sudah pasti positif image (pencitraan), untuk para aktifis public relations kemunculan online dan social media khususnya menjadi sebuah keharusan dalam menjadikan kedua media tersebut sebagai channel utama dalam melakukan aktifitas komunikasi malah bisa dibilang wajib. Bagaimana pun konteksnya, baik itu untuk business, personal branding, atau corporat branding, social media diperlukan sebagai media public relations (interaksi, share informasi, dan klarifikasi). 

4.       Watch Out Sir! Cyber Bully Ahead
Dibalik nilai positif dari online dan social media yang seabrek sudah pasti terdapat secuil nilai negatifnya juga dong, karena seperti yang saya bilang terkadang segala sesuatu ini bagaikan dua sisi mata uang. Lantas apakah yang menjadi point negatifnya? adalah yang namanya Cyber Bully, apa itu? nih namanya online dan social media itu kan eranya kebebasan informasi dimana informasi apapun bisa diakses oleh siapa saja (bebas) dan belum lagi sifatnya yang viral sehingga percepatan informasi akan sangat cepat karena siapa saja bisa mengaksesnya, kebebasan ini juga memang diperkuat dengan kondisi belum adanya regulasi (rule) khusus yang mengatur online dan social media sehingga siapapun bebas berpendapat yang sayangnya kebebasan ini oleh sebagian orang di artikan salah. Kayak sekarang, walaupun umurnya baru seumur jagung account @SBYudhoyono sudah menjadi pembicaraan yang menyudutkan, misalnya mengenai accoutnya yang di set mirip banget dengan account milik orang no 1 di Amerika @BarackObama, atau berita mengenai artis porno @vickyvette yang mention minta di folbek, yang tentunya berita tersebut kini menjadi pembicaraan hangat di twitter. (dira.illanoor – 2013)