Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Jumat, 03 Mei 2013

Icon Campaign Sang Cawalkot


sumber gambar : google

             Nggak kerasa yah pemilihan Calon Wali Kota Bandung periode 2013 – 2018 akan dilangsungkan beberapa bulan lagi perasaan baru banget beres kemaren pemilihan Gubernur baru Jawa Barat. Untuk warga Bandung sendiri saat ini mungkin sedang dalam proses pencarian informasi dan penilaian Bakal Calon Walikota yang dinilai memiliki visi dan misi sesuai dengan harapan mereka untuk Kota Bandung, bahkan mungkin tidak menutup kemungkinan beberapa diantaranya sudah menetapkan pilihan mengenai bakal calon mana yang akan dipilih nanti.

                Oke balik lagi ke pembahasan bahas mengenai pemilihan Calon Wali Kota, melalui tulisan ini saya ingin membahas mengenai fenomena social media yang kini dipilih sebagai salah satu media untuk kampanye.  Dalam artikel sebelumnya saya pernah sedikit membahas mengenai “perang public campaign via twitter” yang secara umum menjelaskan alasan kenapa twitter dijadikan sebagai salah satu media untuk kampanye oleh para Calon Gubernur Jakarta saat itu. Oke mungkin boleh direview sedikit, ada 5 alasan yang intinya adalah large number of twitter user, sosmed low cost activity for campaign, two ways communication channel, chance for engagement, dan viral mode.

                Nah melalui tulisan ini saya ingin membahas mengenai upaya yang dilakukan oleh salah satu Bakal Calon Walikota yang melakukan aktivasi kampanye melalui social media (twitter), dan pembahasan kita kali ini akan fokus pada “icon avatar profil yang diciptakan”, nggak perlu saya deskripsikan lebih jelas sudah tau kan siapa yang saya maksud he4 biar no mention. Balik ngomongin kampanye politik lewat twitter, sudah bias ditebak secara umum aktifitasnya pasti sama dimana account tersebut dijadikan sebagai media informasi mengenai aktifitas yang dilakukan bakan calon, hingga media tanya jawab dengan masyarakat, namun seperti yang saya bilang saat ini saya tertarik mengupas mengenai penggunaan “icon campaign” oleh salah satu Cawalkot yang menurut saya pribadi sangat menarik untuk dijadikan pembahasan. Sebelum tulisan ini dibaca, saya tekankan bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan sama sekali sebagai bentuk dukungan kampanye kepada, namun sepenuhnya ditujukan untuk tulisan saja he4.

1.       Icon (Avatar) = Mudah Di Ingat
Bener nggak yah kalo kita itu lebih gampang mengingat hal-hal yang sifatnya gambar (visual) dari pada hal-hal yang sifatnya non gambar (non visual)? Kalo bener mungkin pernyataan tersebut menjadi penguat dari point pertama ini, yang dimana icon avatar akan lebih mudah di ingat oleh masyarakat, dengan demikian penggunaan icon avatar sebagai salah satu media kampanye saya nilai cukup baik karena gambar visual akan lebih mudah diingat oleh otak kita, ketika kita mengingat icon avatar tersebut tentunya akan terasosiasi kepada sang Bakal Calon Walikota.

2.       Variasi Icon Avatar
Point menarik selanjutnya adalah avatar yang awalnya dibuat dalam satu bentuk icon terdiri dari gambar rambut dan kaca mata (mewakili sang bakal calon) dibuat juga kedalam beberapa tema tema yang berbeda (varian), beberapa diantaranya ada yang mengangkat tema fun, imagine, justice, brave, futuristic, hero, 3D, dll. Pertanyaanya adalah apa hubungannya variasi icon avatar dengan kampanye? He4 good question, nah kalo menurut pendapat saya pribadi sih adanya icon avatar yang mengangkat tema tertentu tersebut bisa mewakili ekspresi dari masyarakat (netizen) khususnya kalangan anak muda, selebihnya juga bias mewakili emotional dari mereka mengenai harapan untuk Kota Bandung.

3.       Ajakan Partisipasi (Dukungan)
Keberadaan icon avatar tersebut menurut saya pribadi bukanlah tanpa alasan karena sudah pasti ada maksud dan tujuan tertentu, lalu kira-kira apa tujuannya? kalo boleh saya menebak dan berandai-andai keberadaan icon avatar tersebut merupakan ajakan kepada masyarakat (netizen) untu berpartisipasi mendukung sanga Bakal Calon Walikota tentunya, walaupun mungkin realitanya di lapangan mereka belum tentu milih yah setidaknya sudah ikut partisipasi memperkenalkan icon avatar ini di online.

4.       Latah = Kampanye Pasif
Banyak yang bilang kalo orang Indonesia itu latah, karena biasanya kalo ada isu yang menarik muncul semua orang pasti ingin membicarakannya atau menjadi bagian dari pembicaraan itu sendiri. Nah berlandaskan realita yang terjadi dimasyarakat saya sedikit menyimpulkan bahwa fenomena latah ini menjadikan keuntungan bagi pelaku kampanye karena menjadi sebuah kampanye pasif (orang lain yang mengkampanyekan kita). Nggak percaya? coba deh cek icon avatar twitter, whatssup, line, atau blackberry temen kita pasti ada yang menjadikan salah satu icon avatar tersebut sebagai display picture, he4 kalo boleh nih saya menyebutnya sebagai W.O M dalam bentuk gambar. Karena begitu orang pake icon tersebut kemungkinan besar temannya akan lihat dan muncul penasaran, lalu mulai mengenai icon tersebut yang merepresentasikan sang Bakal Calon Walikota. Bagaimana kalo ada yang nggak tau maksud icon tersebut namun menggunakannya sebagai display picture? Jawabannya itulah yang dimaksud kampanye pasif. (dira. Illanoor – 2013).