Prolog Dari Penulis

Menulis bisa membuat kita terus berpikir, belajar, dan berproses. Melalui blog ini saya hanya ingin share sedikit mengenai tulisan-tulisan yang dibuat supaya lebih bermanfaat, semoga tulisan saya bisa memberikan insights dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Sabtu, 13 April 2013

Bisnis Adu “Fungsi” v.s Bisnis Adu “Kecerdasan”



sumber gambar : 

             Gaya yah judulnya, sampai-sampai kalo baca judulnya langsung mikir emang ada yah bisnis yang adu fungsi lawan adu kecerdasan? buat para pelaku bisnis kira-kira kalian sedang adu “fungsi” atau adu “kecerdasan”? oke sebenarnya adu “fungsi” dan adu “kecerdasan” hanya sebuah perumpamaan saja, bahwa dalam realita bisnis di lapangan banyak pelaku bisnis yang lebih cenderung sibuk beradu “fungsi”, namun juga tidak sedikir para pelaku bisnis yang melakukan adu “kecerdasan”. Nah melalui tulisan ini sebenarnya saya hanya sedikit berbagi saja mengenai  bisnis yang mengandalkan adu “fungsi” dengan bisnis yang mengandalkan adu “kecerdasan”, tentunya masing-masing memiliki pembahasan yang berbeda sehingga menarik untuk dibahas.

1.       Adu Fungsi = Bisnis Komoditi
Oke pertama adalah adu “fungsi”, yang dimaksud dengan bisnis adu “fungsi” sebenarnya sangat sederhana dalam hal ini para pelaku bisnis hanya bersaing dengan fokus menjual fungsi utama dari produk yang dijualnya tersebut mau itu barang ataupun jasa. Misalkan sebuah produk donat yang dijual dibeli oleh seorang konsumen untuk “mengenyangkan” perutnya yang lapar atau konsumen tersebut membelinya karena donat tersebut “enak”, sehingga tidak ada kebutuhan lainnya yang dicari oleh konsumen tersebut.

Persoalan akan berbeda ketika seorang konsumen membeli produk donat J.Co di sebuah mall, nah yang dibeli oleh konsumen tersebut bukan hanya sekedar fungsi donatnya yang “mengenyangkan”atau “enak”, namun dibalik semua itu seseorang membelinya karena serangkaian nilai yang ada pada merk  J.Co itu sendiri. Seorang konsumen membeli donut J.Co mungkin karena emotional experience yang ditawarkan, mungkin karena varian rasa donatnya, bisa jadi karena bundling donat dengan capucino, bisa karena pelayananan dari sang pelayannya yang sigap dan ramah, bisa jadi karena akses wifi gratis, any many more, namun intinya adalah selain fungsi terdapat value lainnya yang akan menjadi pertimbangan konsumen tersebut dalam membeli produk kita.

Balik lagi ke adu “fungsi”, kalo produk bisnis kita hanya beradu “fungsi” saja maka akan menjadikan produk kita sebagai produk “komoditas”, kenapa? karena secara tidak langsung persaingan adu “fungsi” tersebut memaksa kita untuk menjadi sama dengan produk lainnya atau bahkan kebanyakan, menjadikan produk kita bisa saja atau sama dengan yang lain. Nah kalo sudah begini apa yang akan terjadi? pertama tentunya produk kita akan sulit bersaing dengan produk serupa, kedua persaingan akan bisnis menjadi fokus pada persaingan harga dalam hal ini produk komoditas kemungkinan akan bersaing di masalah harga, siapa yang paling murah itu yang kemungkinan dipilih oleh konsumen, wong rasa dan fungsinya sama, so ngapain saya harus bayar lebih mahal, setuju dan bisa dimengerti kan?
  
2.       Adu Kecerdasan = Bisnis Value
Sekarang kita akan masuk kepembahasan berikutnya mengenai bisnis yang mengandalkan adu kecerdasan, dan sebelum dimulai tentunya akan muncul sebuah pertanyaan besar mengenai kenapa saya harus bisnis mengandalkan “adu kecerdasan”? saya akan coba jawab yah, he4 hal pertama yang paling mendasari pertanyaan tersebut adalah karena :

ü  Konsumen yang semakin pintar memilih, kini konsumen nggak cuma cari fungsi tapi juga cari value apa yang bisa kita kasih sama mereka, karena mereka bakalan rela spending uang lebih untuk membeli nilai value yang kita jual kok.
ü  Pesaing bisnis nggak cuma satu, dua, atau tiga namun puluhan bahkan ratusan, dengan demikian untuk bisa bersaing dengan para pesaing untuk mendapatkan hati konsumen ya kita harus bersaing menggunakan kecerdasan. “it’s to many noise between you and your costumer, so you have to use your intellegent to reach your costumer”
ü  Kecerdasan yang kita kemas dalam serangkaian value, akan menjadi pembeda diantara produk kita dengan produk lainnya, yang dimana value tersebut bisa menjadikan produk atau bisnis kita superior bahkan bisa menjadi market leader.

Nah itu tadi mengenai 3 alasan utama yang mendasari mengapa kita harus bisnis adu “kecerdasan”, selanjutnya bagaimana cara kita beradu kecerdasan? tentunya akan ada banyak cara yang tidak mungkin saya jelaskan melalui tulisan ini satu persatu karena bisa-bisa abisin satu buku lagi, he4. Nah intinya kan tadi sudah sama-sama kita bahas kuncinya adalah value, how to create? sederhananya kita mengenal teori 4P atau 6P, product, price, place, promotion, people, and process nah melalui 6 faktor itulah kita bisa mecreate kecerdasan dalam bentuk value.

Sebagai contoh keripik Maicih yang menciptakan tingkat level kepedasan produknya #product, dan metode penjualan reseller ala jenderal #place  dan promo lewat social media #promotion yang berhasil menjadikan kudapan keripik singkong pedas menjadi berbeda dari keripik singkong biasa. Ada juga yang namanya Bandung Taxi Bike, sensasi naik ojek se-esklusif taksi yang mengemas armada Vespa LX yang di branding total #product, memberikan service tisu basah, permen, jas hujan khusus konsumen #process, dan menyediakan supir yang professional dan handal #people. Intinya banyak hal yang bisa kita kembangkan dari ke 6 faktor tersebut sehingga bisa menjadi value lebih untuk bersaing secara cerdas, disini penting juga bagi kita untuk mengetahui nilai uniqeness dari bisnis atau produk yang akan kita jual. (dira.illanoor – 2013)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar